SEBAB BERKURANGNYA KEBAHAGIAAN DI HARI RAYA IDUL FITRI
SEBAB BERKURANGNYA KEBAHAGIAAN
DI HARI RAYA IDUL FITRI
Asy Syaikh Al ‘Allamah Prof. Dr. Yusuf Al Qaradhawi
Islam
telah mensyariatkan untuk kita dua hari raya, yang menghubungkan keduanya
dengan syiar-syiar dan ibadah-ibadah yang agung. Menghubungkan salah satunya
dengan kewajiban puasa, dan menghubungkan yang satunya lagi dengan kewajiban
haji.
Hari
raya yang kita jalani sekarang adalah hari raya idul fitri, dan bulan Ramadhan adalah
bulan penakhlukan bagi manusia, yaitu manusia menakhlukkan syahwatnya, dan
naluri-naluri nafsunya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, seperti
yang disampaikan di dalam hadits qudsi: “dia meninggalkan makanannya karena
aku, dan meninggalkan minumannya karena aku, dan meninggalkan istrinya karena
aku, dan meninggalkan syahwatnya karena aku”. Maka ia merupakan bulan
penakhlukkan dalam islam.
Dan
wajarlah setelah berlalunya bulan ini yang disyariatkan di dalamnya shiyam dan
qiyam, kemudian datanglah hari raya yang diberkahi, penyempurna kebahagiaan. Sebagaimana
yang disampaikan di dalam sebuah hadits yang shahih: “bagi orang yang berpuasa
mendapatkan dua kebahagiaan, jika ia berbuka ia bahagia dengan berbukanya, dan
jika ia bertemu dengan Rabb-nya, ia bahagia dengan puasanya. Dan dia merasa
bahagia setiap hari, kebahagiaan yang alami, dengan kembalinya kelapangan
kepadanya, yang sebelumya diharamkan baginya, kemudian menjadi boleh setiap bakda
maghrib setiap harinya. Inilah kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan dalam
menjalankan syariat, dengan petunjuk Allah, ia bisa melaksanakan ibadah puasa.
Dan
ada lagi kebahagiaan setelah berlalunya bulan ini, dan sesungguhnya Allah
memberikan taufiq kepada seorang muslim untuk melaksanakan puasa di bulan
Ramadhan dan menghidupkan malam-malamnya, oleh karena itu datanglah hari raya
idul fitri, yang merupakan hari kebahagiaan. Maka kebahagiaan tersebut mestilah
dirasakan oleh semua orang, maka islam mensyariatkan zakat fitrah, sebagaimana
yang dikatakan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
mewajibkan zakat fitrah: “untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan
yang sia-sia dan perkataan yang keji, dan untuk memberi maka orang-orang miskin”.
Maka
(zakat) mewujudkan dua tujuan, tujuan untuk orang yang bepuasa, mensucikannya
dari perbuatan yang sia-sia dan perkataan yang keji, dengan (zakat) diperbaiki
puasa orang-orang yang berpuasa, yang rusak akibat melakukan perbuatan yang
sia-sia dan perkataan yang keji. Dan ia merupakan pemberian dan pertolongan
kepada orang-orang miskin pada hari raya.
Sehingga
hari raya tidak hanya menjadi hari kebahagiaan bagi orang-orang yang mampu, dan
orang-orang yang berkecukupan, dan orang-orang yang kaya, dan menjadi hari
kesedihan bagi orang-orang yang kesulitan dan kesusahan. Oleh karena itu Allah
mewajibkan zakat fitrah atau shadaqoh fitrah yang mewujudkan rasa tanggung jawab
terhadap sesama, pada hari yang mulia ini, pada hari raya idul fitri ini.
Idul
fitri dan idul adha adalah hari kebahagiaan dan kegembiraan, dan walaupun kita
umat islam tidak merasakan kebahagiaan yang sempurna dengan datangnya hari-hari
raya, karena masih tersimpan kesedihan di dalam diri, dan air mata masih
berlinang di mata, dan rasa sedih masih menyelimuti hati, melihat kondisi yang
terjadi di negara-negara islam. Ada negara yang penduduknya masih serba
kekurangan, ada negara yang masih terjajah kebebasannya, ada negara yang
anak-anak bangsanya hidup dalam keterpaksaan untuk bekerja dan dalam
kesengsaraan, karena disebabkan tuntutan hidup yang mesti dipenuhi. Oleh karena
itulah kebahagiaan kita menjadi tidak sempurna.
Oleh
karena itu kita berharap dan memohon kepada Allah, semoga Allah menganugrahkan
umat islam hari raya yang di dalamnya kalimat-kalimat Allah ditinggikan,
negara-negara islam dibebaskan, masjidil aqsha dibebaskan dan dikembalikan
kepada umat islam kedaulatannya dan kehormatannya. Dan inilah yang kita
harapkan In Syaa Allah.
Kepada
kita semua yang telah melalui bulan Ramadhan, sesungguhnya Allah senang untuk
dita’ati di setiap waktu, dan benci untuk dimaksiati di tempat mana pun, karena
Rabb-nya Ramadhan, juga Rabb-nya bulan Syawal, juga Rabb-nya bulan Dzul Qo’dah.
Seorang
muslim melipatgandakan semangatnya di bulan Ramadhan, akan tetapi janganlah ia
hilangkan setelah ia melewati bulan Ramadhan. Wajib untuk selalu terikat dengan
ikatan Allah, terhubung dengan Al Qur an dan rumah-rumah Allah. Barangsiapa
yang menyembah Ramadhan, maka sesungguhnya Ramadhan pasti berlalu, dan
barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah akan selalu hidup dan
tidak akan pernah mati.

Komentar
Posting Komentar