TADABBUR SURAT AL FATIHAH




            
TADABBUR SURAT AL FATIHAH
 
            Surat Al fatihah adalah surat yang mulia, yang terdiri dari tujuh ayat menurut pendapat yang rojih, dan tergolong dalam surat makiyah yaitu surat yang diturunkan sebelum hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke madinah menurut pendapat rojih.
            Dinamai surat Al Fatihah karena ia merupakan surat pembuka di dalam Al Qur an, berdasarkan urutannya di Al Qur an, bukan berdasarkan urutan turunnya dari langit kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena urutan turunnya kepada Rasulullah berdasarkan sebab, kejadian, pertanyaan, dan asbabun nuzul lainnya, sedangkan urutan peletakan surat dan ayat di dalam Al Qur an berdasarkan perintah Rasul dari Jibril, dari Allah Subhanahu wata’ala.
             Juga dinamai Fatihatul Kitab karena ia merupakan surat pembuka yang dibaca setiap sholat. Selain itu juga dinamai Ummul kitab atau Ummul Qur an karena kandungan surat Al Fatihah mencakup sebagian besar asas-asas agama, mulai dari tentang ushuluddin dan cabang-cabangnya, aqidah, ibadah, syariat, puji-pujian kepada Allah, ubdudiyah, rububiyah, sifat-sifat Allah, keyakinan dengan hari akhir, memohon pertolongan kepada Allah, memohon hidayah dan jalan yang lurus, memohon dengan imam yang mantap dan mengikuti jalan orang-orang yang sholeh, dan menjauh dari jalan-jalan orang yang dimurkai dan sesat, berita tentang umat terdahulu, mengetahui tempat bagi orang-orang yang beruntung dan tempat bagi orang-orang yang merugi, juga berisikan tentang penghambaan kepada Allah dengan menjalankan semua perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, dan hal lainya yang berkiatan dengan agama.
            Selain Ummul qur an atau Ummul Kitab, surat Al Fatihah juga dinamai dengan, As Sab’ul Matsani, Al Hamd, As Sholah, As Syifa, Al Kafi, dan Al Wiqoyah. Di dalam bahasa Arab, apabila sesuatu-sesuatu berkumpul pada suatu tempat, maka orang arab menyebut tempat berkumpulnya sesuatu yang banyak itu dengan istilah “Umm” yaitu ibu, seperti Ummul Quro (Makkah) tempat berkumpulnya orang banyak dari berbagai daerah, kitab Al Umm (kitab imam Asy Syafii) dinamai Al Umm karena ia mencakup semua permasalahan fiqh, begitu juga Ummul Qur an atau Ummul kitab, karena Al Fatihah mencakup semua asas-asas agama islam di dalam tujuh ayat yang dihafal oleh semua umat muslim. Maka surat Al Fatihah ibaratkan ibu bagi surat-surat yang lain yang ada di dalam Al Qur an.
            Ayat pertama:
بسم الله الرحمن الرحيم
“Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”
            Imam Al Qurthubi berkata di dalam kitab tafsirnya: ditulis dengan بسم  (tanpa alif), karena lafaz Bismillah itu sering digunakan, sedangkan firman Allah di dalam surah Al ‘Alaq yang berbunyi إقرأ باسم ربك  (ditulis alif pada “ba”-nya) karena sedikit digunakan.
            Apabila kita telusuri di dalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita dapati lafaz Bismillah sering kita ucapkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah haditsnya, yang ditulis oleh imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya:
            كل أمر لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم، فهو أجذم
“Setiap perkara yang tidak yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim , maka ia terputus”
            Berkata imam As Syairozi di dalam kitabnya bahwa makna “terputus” dari hadits di atas adalah terputus keberkahannya atau berkurang keberkahannya. Oleh karena itu hendaknya kita memulai setiap aktivitas kita dengan bacaan Basmalah , agar mendapatkan keberkahan yang sempurna dan dinilai ibadah oleh Allah subhanahu wata’ala.
            Setiap aktivitas kita yang paling penting feed back  yang kita dapatkan darinya adalah keberkahan. Apa yang dimaksud dengan keberkahan? Kata para ulama keberkahan adalah زيادة الخير  (bertambahnya kebaikan), dari harta yang kita peroleh yang paling penting darinya adalah bukan besaran nilainya, tapi keberkahannya, besar nilai belum tentu cukup, besar nilai belum tentu memenuhi keperluan, besar nilai harta yang didapat tapi membawa kita kepada kemaksiatan kepada Allah, maka itu bukanlah harta yang berkah. Hartanya biasa saja, penghasilannya biasa saja, tetapi keperluan terpenuhi, kebutuhan tercukupi, bisa bayar zakat, bisa bersedekah, membuat hati tenang, dekat dengan Allah, maka harta yang diperoleh itu adalah harta yang berkah, dilihat dari sisi nilainya tidak seberapa, tapi karena keberkahannya, maka bertambah kebaikan yang diperoleh darinya, itu makna berkah dari kacamata harta.
            Benang merah ini berlaku di setiap lini kehidupan manusia, bukan hanya dari kacamata harta saja konsep keberkahan ini berlaku, tapi di semua aktivitas kehidupan, dalam menuntut ilmu, dalam berumah tangga, dalam bersosialisasi, dan lainya, jangan sampai kita menghilang nilai keberkahan dari aktivitas kita, dengan selalu meniatkannya karena Allah dan memulainya dengan nama Allah.
            Sebagaimana yang dijelaskan imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya:
            Dianjurkan membaca basmalah setiap memasuki sebuah tempat, dianjurkan membaca Basmalah disaat mau berwudhu, dianjurkan membaca basmalah disaat mau menyembelih hewan, dianjurkan membaca Basmalah disaat mau makan, dianjurkan membaca Basmalah disaat mau berhubugan suami istri, dan dianjurkan membaca Basmalah disaat mau memulai semua aktivitas, agar kita mendapatkan keberkahan, mendapatkan kebaikan, mendapatkan pertolongan agar amalan kita sempurna dan diterima.
            Selain itu, agar aktivitas kita dinilai ibadah oleh Allah subhanahu wata’ala. Berkata Al ‘Allamah Syaikh Ahmad Ar Raisuni (Ketua persatuan ulama dunia): ibadah itu luas, ibadah bukan hanya sholat, zakat, puasa, tapi semua aktivitas baik seorang muslim bisa menjadi ibadah. Maka jadikanlah setiap aktivitas kita ibadah kepada Allah dengan meniatkannya karena Allah subhanahu wata’ala.
            Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إنما الأعمال بالنيات
“Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya”

            كل أمر لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم، فهو أجذم
“Setiap perkara yang tidak yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim , maka ia terputus”
            Ayat ke dua
الحمد لله رب العالمين
“Segala puji bagi Allah, tuhan seluruh alam”
            Imam Abu Ja’far bin Jarir (penulis kitab tafsir Jamiul Bayan ‘an Takwilil Qur an) berkata:
            “Alhamdulillah” adalah Syukur kepada Allah dengan ikhlas, tanpa ada yang disembah selainnya, dan tanpa bergantung kepada makhluk-makhluknya, atas segala nikmat yang diberikannya kepada hamba-hambanya, yang tidak dapat dihitung dan tidak pula ada yang mengetahui jumlahnya kecuali sang pemberinya, bersyukur atas dibukakannya wasilah ketaatan kepadanya, bersyukur atas anggota tubuh yang masih bisa menjalankan perintahnya, bersyukur atas pemberian rezeki yang dianugrahkannya, dan dengannya kita dapat merasakan kenikmatan hidup, yang tidak akan didapatkan kecuali darinya, yang dengan nikmat itu mengingatkan kita kepada sang pemberinya, dan membawa kita kembali kepadanya, yang menjadi sebab dimasukkannya ke dalam surga yang penuh kenikmatan dan kekal selamanya. Maka bagi Rabb kita segala puji baginya atas semuanya, mulai dari awalnya hingga akhirnya.
            Imam Ibnu Jarir juga berkata: “Alhamdulillah” adalah pujian Allah untuk dirinya, yang juga mengandung makna perintah kepada hamba-hambanya, agar mereka memujinya dengan pujian yang diajarkannya.
            Berkata Imam Al Qurthubi: “Al Hamdu” bermakna adalah pujian yang sempurna, dalam bahasa arab “Al Hamdu” ((الحمد ,aslinya “Hamdun( (حمدtanpa "alif lam" ((ال, dan ditambahkan “alif lam” menjadi “Al Hamdu” (   ,(الحمدyang memiliki makna segala bentuk pujian, dan pujian yang mutlak. Maksudnya bahwa dengan mengucapkan “Alhamdulillah”, kita mengucapkan pujian kepada Allah, yang mencakup segala bentuk pujian, dan pujian kepada Allah adalah pujian yang mutlak.
            Guru kami berkata, disaat masih menuntut ilmu di Al Azhar, diantara hikmah diturunkannya Alhamdulillah, bahwa karena besarnya kemuliaan dan keagungan Allah, manusia tidak tahu dan bingung bagaimana cara memuji Allah yang tepat, sehingga Allah turunkan, dan Allah ajarkan hamba-hambanya cara memujinya dengan lafaz “Alhamdulillahirabbil’alamin” segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
            Di dalam Tafir Ibnu Katsir, penulis imam Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata bahwa Umar bin Khattab berkata: kami sudah tahu kalimat “Subahanallah, laa ilaaha illallah,”, dan apa itu Alhamdulillah?. Ali bin Abi Thalib menjawab: ia adalah kalimat yang diridhoi Allah untuk dirinya.
Didalam riwayat lain Ali bin Abi Thalib berkata: ia adalah kalimat yang disukainya (Allah), yang diridhoinya, dan disukainya untuk diucapkan.
Imam Ibnu Katsir juga menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata: Alhamdulillah adalah kalimat syukur, apabila seorang hamba mengatakan “Alhamdulillah”, maka Allah akan mengatakan: “hambaku telah bersyukur kepadaku”. Imam Ibnu Katsir mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
            Berkata syaikh Ali Ash Shobuni di dalam kitabnya Shofwatu At Tafasir:
            “Alhamdulillah”  adalah bentuk pujian yang indah, untuk mengangungkan dan memuliakan yang terhubung dengan makna cinta, lawan dari celaan, dan dia lebih umum dari pada syukur, karena syukur baru terealisasi setelah diberikan nikmat, sedangkan pujian berbeda.
            Didalam tafsirnya, imam Ibnu Katsir lebih menjelaskan bahwa, “Al Hamdu” atau pujian, lebih umum dari pada syukur disatu sisi, dan lebih khusus dari pada syukur di satu sisi lainnya. Begitu juga, syukur lebih umum dari pada pujian di satu sisi, dan  lebih khusus dari pujian di satu sisi lainya. Pujian lebih umum  dari pada syukur karena pujian itu berlaku meski tanpa pemberian, dan pujian lebih khusus dari pada syukur karena pujian hanya bisa diaplikasikan dalam bentuk perkataan. Sedangkan syukur, lebih umum dari pada pujian karena syukur bisa diaplikasikan dalam bentuk perkataan, perbuatan, dan niat, dan dia juga lebih khusus dari pada pujian karena ia berlaku apabila ada pemberian.
            Syaikh Ali Ash Shobuni juga berkata di dalam kitab tafsirnya bahwa dengan diturunkan ayat “Alhamdulillahirabbil’alamin”, Allah subhanahu wata’ala mengajarkan kepada kita bagaimana hendaknya kita memujinya, mensucikannya, memuliakannya, yang mana ialah pemilik segala pujian, maka diturunkannya “Alhamdulillahirabbil’alamin”, seolah-olah Allah mengatakan kepada hambanya “wahai hambaku, jika kalian mau bersyukur kepada ku, dan mau memuji ku, maka katakanlah “Alhamdulillah”, bersyukurlah kepada ku atas segala kebaikanku kepada kalian, akulah Allah yang memiliki keagungan, kemuliaan, dan kebesaran, aku lah yang menciptakan alam semesta, tuhan semua manusia, semua jin, semua malaikat, tuhan langit dan bumi. Maka pujian dan kesyukuran hanya untuk Allah, tuhan semesata alam, dan tidak ada yang berhak disembah selainnya”.
            Adapun mengenai lafaz “Allah”, imam Ibnu Katsir menyebutkan ini merupakan nama Allah subhanahu wata’ala, nama yang paling mulia, karena nama ini mencakup semua sifat Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ۖ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْمَلِكُ ٱلْقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلْمُؤْمِنُ ٱلْمُهَيْمِنُ ٱلْعَزِيزُ ٱلْجَبَّارُ ٱلْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.


هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. Al Hasy: 22-24

            Imam Ibnu katsir juga mengatakan: dan nama ini adalah nama yang belum ada dan tidak ada yang dinamai dengan nama ini selain Allah tabaroka wa ta’ala.

             Maka jika kita teliti, tidak satupun orang dunia ini yang dinamai dengan nama yang mulia ini, bahkan di zaman jahiliyah pun tidak ada satupun orang yang dinamai dengan nama yang mulia ini. Jika adapun orang yang dinamai dengan nama yang mulia ini, maka akan digabungkan dengan kata yang lain seperti “Abdullah” yang artinya hamba Allah. Begitulah Allah subhanahu wata’ala menjaga kemulian namanya.

            Berkata Ibnu Hayyan dalam tafsirnya kitab Bahrul Muhith: lafaz “Allah” adalah nama yang dinisbat hanya kepada Allah sendiri, dan tidak boleh dinisbatkan kecuali hanya kepada yang berhak disembah saja (yaitu Allah azza wa jalla).

            Oleh karena itu, hendaknya kita selalu menyebut-nyebut nama yang mulia ini, hendaknya kita selalu membasahi hati dan lisan kita dengan selalu menyebut-nyebut namanya yang mulia ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.  QS. Al Baqoroh: 152

            Imam Ibnul Qoyyim berkata: sesungguhnya dengan membiasakan berdzikir di jalan, di rumah, di tempat mana pun, akan memperbanyak saksi seorang hamba nanti di hari kiamat, sesungguhnya bumi akan menjadi saksi bagi orang yang bedzikir di hari kiamat.



            Ayat ke tiga
ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Yang maha pengasih lagi Maha Penyayang.

           
Sebelumnya lafaz ini sudah ada pada ayat pertama surat Al Fatihah, tapi kemudian Allah subhanahu wata’ala mengulang untuk ke dua kalinya pada ayat ke tiga, dengan menjadikannya satu ayat khusus pada ayat ke tiga. Pengulangan ini bukan hanya sekedar pengulangan, tentu ada maksud dari sang pencipta kenapa lafaz yang mulia ini diulang bahkan dijadikan satu ayat khusus.

            Sebelum membahas maksud pengulangan ayat lafaz tersebut, kita telusuri dulu makna dari lafaz yang mulia ini. “Ar Rahman Ar Rahim” adalah nama dari nama-nama Allah subhanahu wata’ala. “Ar Rahman” artinya yang maha pengasih, dan “Ar Rahim” artinya yang maha penyayang. Para ulama tafsir mengatakan kedua-duanya berasal dari kata “Ar Rahmah (الرحمة) .

            Para ulama tafsir mengatakan bahwa makna “Ar Rahman” lebih umum dari pada makna “Ar rahim”. Imam Ibnu Katsir berkata: sebagaimana yang dikatakan di dalam sebuah Atsar, dari Isa ‘alaihi as salam, ia berkata: “Ar Rahman untuk di dunia dan akhirat, dan Ar Rahim untuk di akhirat”.
           
            Imam Al Khathobi mengatakan: “Ar Rahman” yang maha pengasih, yang mencakupi semua makhluk, baik muslim atau kafir, dalam pemberian rezekinya, atau kemashlahatan hidupnya. Sedangkan “Ar Rahim” khusus untuk orang-orang beriman. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

           
Imam Ibnu Jarir Ath Thobari berkata: “Ar Rahman” untuk semua makhluk, dan “Ar Rahim” khusus untuk orang-orang yang beriman.

            Rasulullah shallallahu ‘alahiwasallam bersabda, yang diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi dari Abdurrahman bin Auf:

فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا اللَّهُ وَأَنَا الرَّحْمَنُ خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

Kemudian berkatalah Abdurrahman; Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfiman: 'Akulah Allah, dan Aku adalah Ar Rahman. Aku telah menciptakan kasih sayang yang aku ambilkan dari nama-Ku. Maka siapa yang menyambungnya, akau akan menyambungnya, dan siapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskan kasih sayang-Ku darinya.

            Imam Ibnu Katsir berkata: dimulai dengan nama Allah “Bismillah”, (yang mana lafaz “Allah” sebagaimana yang sudah di jelaskan pada ayat sebelumnya mencakup semua sifat Allah subhanahu wata’ala), kemudian dilanjukan dengan sifat “ Ar Rahman” yang lebih khusus, dan lebih umum dari “Ar Rahim”, dimulai dengan “Bismillah” diawal karena itu merupakan nama Allah yang paling masyhur dan mulia, kemudian dilanjutkan dengan sifat yang khusus (“Ar Rahman” untuk semua makhluk, orang beriman, termasuk juga orang kafir), kemudian dilanjutkan dengan sifat yang lebih khusus lagi (“Ar Rahim” khusus untuk orang-orang beriman).

            Kemudian lafaz “Ar Rahman Ar Rahim” di ulang lagi untuk kali ke dua, pada satu ayat khusus, ayat ke tiga pada surat Al Fatihah. Berkata Sayyid Quthub di dalam kitab tafsirnya “Fi Zhilalil Qur an”: diulanginya lafaz “Ar Rahman Ar Rahim” pada sumsum surat, pada satu ayat khusus, untuk menguatkan tanda yang jelas dari ketuhanan Allah subhanahu wata’ala atas semua makhluknya, untuk memantapkan tonggak hubungan antara Rabb dan hamba-hambanya, antara pencipta dan ciptaannya, sesungguhnya hubungan itu adalah hubungan kasih sayang, yang menuntut kita untuk memujinya dan memuliakannya, dan  juga hubungan yang berdiri diatas ketenangan dan mengalir diatas kecintaan. Maka “Alhamdulillah” segala puji bagi Allah adalah respon yang mulia atas rahmatnya yang mulia.

            Al ‘Allamah Syaikh Ali Shobuni mengatakan: (الرحمن الرحيم) “yang maha pengasih lagi maha penyayang” atau yang luas rahmatnya yang menerangi segalanya, terpancar keutamaannya kepada seluruh makhluknya, dengan nikmat yang diberikan kepada hamba-hambanya, dari penciptaannya di muka bumi, dari rezeki yang diberikan, dari hidayah yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Dialah Rabb yang mulia, yang rahmatnya selalu memancarkan kebaikan.

            Jika kita mengakui diri kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, maka kita beriman bahwa Allah adalah yang maha pengasih, yang memberikan kehidupan, yang memberikan rezeki, yang memberikan kenikmatan, yang memberikan hidayah untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Bahkan pemberiannya tidak terbatas hanya pada hambanya yang taat kepadanya, tapi pemberiannya juga berlaku untuk orang-orang kafir. Maka sebagai orang yang beriman, tidak pantas apabila suatu nikmat yang belum didapatkan, kemudian berkeluh kesah dan menyalahkan Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

            Sebaliknya, apabila nikmat itu sudah didapatkan, maka janganlah kufur atas nikmat tersebut, Allah subhanahu wata’la berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

            Pada intinya, semua isi kehidupan orang mukmin itu adalah nikmat, semua isi kehidupan orang mukmin itu adalah kebaikan. Sudah jelas disetiap nikmat itu adalah nikmat, dan disetiap musibah, petaka, atau yang selain dianggap nikmat, pasti ada hikmah dibalik itu semua, apabila kita menyadari hikmah dibalik semua kejadian itu, maka itulah nikmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya."


           
Ayat ke empat
مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Yang menguasai di Hari Pembalasan.

            Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa kata “Maalik” (
مالك) diambil dari kata “Al Mulk” (الملك), sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

لِّمَنِ ٱلْمُلْكُ ٱلْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ ٱلْوَٰحِدِ ٱلْقَهَّارِ

"Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.  QS Al Ghafir: 16

ٱلْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِ ۚ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ عَسِيرًا

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. QS Al Furqon: 26
Jadi, “maalik” bermakna raja atau penguasa, dan “al mulk” berarti kerajaan atau kekuasaan.

            Pada ayat ini Allah menyebutkan secara khusus kekuasaannya pada hari pembalasan, bukan berarti di hari selain hari pembalasan Allah subhanahu wata’ala tidak berkuasa, karena ialah sang maha kuasa atas segala sesuatu. Sebagaiamana yang dikatakan imam Ibnu Katsir: pengkhususan atas kekuasaan di hari pembalasan tidak menafikan kekuasaanya atas yang lain selain hari pembalasan, karena pada ayat sebelumnya sudah dikabari bahwa ialah “Rabbal ‘alamin” yaitu Rabb semesta alam, yaitu dunia dan akhirat.

            Para ulama mengatakan, makna “Alam” adalah كل ما سوى الله (segala sesuatu selain Allah). Kemudian melanjutkan perkataan imam Ibnu Katsir: dan sesungguhnya ditambahkan kepada hari pembalasan, menguatkan bahwasanya tiada yang berkuasa atas sesuatu pun selain Allah, bahkan tidak ada yang bisa berkata-kata sedikitpun kecuali atas izin Allah.

            Maksud dari perkataan imam Ibnu katsir, bahwa di ayat sebelumnya Allah subhanahu wata’ala sudah menyatakan bahwasanya ialah “Rabbal ‘Alamin”, kemudian pada ayat ke empat, Allah menambahkan lagi peryataannya bahwa ialah penguasa atau raja di hari pembalasan. Maksud pernyataan Allah subhanahu wata’ala ini adalah, sebagaiamana yang dijelaskan oleh imam Ibnu Katsir, menunjukkan kepada penguatan bahwa tiada yang berkuasa atas sesuatu pun selain Allah, bahkan tidak ada yang bisa berkata-kata sedikitpun kecuali atas izin Allah.
           
            Sebagaiamana firman Allah azza wa jalla:

يَوْمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. QS. An Naba’: 38

            Berkata Ad Dahhak dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: tidak ada yang berkuasa pada hari itu untuk menghakimi, sebagaimana kuasa mereka ketika di dunia. Dan dia (Ibnu Abbas) berkata: hari pembalasan adalah hari perhitungan bagi hamba-hamba Allah, hari kiamat, hari dibalasnya semua perbuatan, apabila baik maka baik pula balasannya, apabila buruk maka buruk pula balasannya, kecuali bagi yang diampuni Allah subahanahu wata’ala. Begitu juga yang dikatakan oleh selainnya dari kalangan sahabat, tabi’in dan salafus sholih.

            Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan dengan perkataan yang sangat indah sekali tentang ayat ini, sebagaimana yang dikutib oleh Al ‘Allamah Asy Syaikh Ali Ash Shobuni di dalam kitabnya “Shofwatu At Tafasir”: apabila seperti itu (yaitu akan dibalasnya semua perbuatan manusia di hari pembalasan), maka seorang hamba dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam beramal baik, dan mencari jalan-jalan menuju keselamatan. Dalam hal ini, inilah kebutuhan yang paling dibutuhkan seorang hamba untuk mendapatkan hidayah dari Allah kepada jalan yang benar, dan mendapatkan pentunjuk dari Allah kepada jalan yang lurus, dan tidak ada yang lebih penting dari pada itu bagi seorang hamba, maka memohonlah kepadanya, bersandarlah hanya kepadanya, dan katakan kepadanya:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Kemudian mintalah kepadanya hidayah untuk ditunjukkan kepada jalan yang lurus.

            Ayat ke lima

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

            Ibadah adalah tujuan hidup manusia di muka bumi, oleh karena itu setiap manusia mesti menghambakan dirinya kepada Allah, agar ia tidak melenceng dari tujuan penciptaannya di muka bumi. Allah subhanahu wata’la berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.  QS. Ad Dzariyat: 56

            Para ulama tafsir mengatakan bahwa ibadah secara bahasa artinya adalah “Adz Dzillah atau Al Khudu’” yaitu ketundukan, sedangkan secara istilah ibadah bermakna “perbuatan yang dilakukan dengan penuh kecintaan, ketundukan, dan ketakutan”.

            Jika dilihat pada ayat lima diatas, maka kita dapati kalimat tersebut mendahulukan objeknya dari pada kata kerjanya (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) “hanya engkau yang kami sembah”. Maka menjelaskan imam Ibnu katsir di dalam tafsirnya: pendahuluan objek atas prediketnya, juga pengulangan hal tersebut pada kalimat selanjutnya bermakna  “Al Ihtimam” benar-benar mementingkan ibadah hanya kepada Allah  dan  “Al Hashr” membatasi bahwa tiada yang diibadati selain Allah, maknanya: “kami benar-benar tidak menyembah selain menyembah engkau ya Allah, dan tidak bertawakkal selain kepada engkau ya Allah. Dan inilah keta’atan yang sempurna.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

            Ayat ini adalah ungkapan terindah dari seorang hamba kepada Rabb-nya, ketika seorang hamba membaca ayat ini di dalam sholatnya, seolah-olah ia mengungkap perasaan terindahnya kepada Rabb-nya. Syaikh Ali Ash Shobuni mengatakan di dalam kitab tafsirnya “As Shofwatu At Tafasir”:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Atau bermakna: Kami mengkhususkan ibadah kami hanya untuk engkau ya Allah, dan kami mengkhususkan permintaan kami hanya kepada engkau ya Allah, dan kami tidak menyembah selain engkau ya Allah, hanya kepada engkau sajalah kami tunduk, hanya kepada engkau sajalah kami patuh, dan hanya kepada engkau pula lah wahai Rabb kami, kami memohon pertolongan untuk bisa menjadi hamba mu yang taat kepada mu, dan ridho terhadap takdir mu, sesungguhnya engkau lah yang maha memiliki segala kemuliaan dan keagungan, dan tidak ada yang memiliki kemampuan untuk menolong kami satupun kecuali engkau ya Allah.

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus,


            Berkata Ad Dahhak, dari Ibnu Abbas: makna إِيَّاكَ نَعْبُدُ adalah hanya engkaulah yang kami esakan, hanya engkaulah yang kami takutkan, hanya kepada engkaulah kami berharap wahai Rabb kami dan tiada tempat berharap selain kepada engkau ya Rabb, وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ dan hanya kepada engkaulah kami memohon untuk menjadikan kami hamba mu yang taat kepada mu, dan untuk kebaikan setiap urusan-urusan kami.
           
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

            Selain merupakan bentuk ungkapan dan pernyataan yang indah dari seorang hamba kepada Rabb-nya, yang dianjarkan oleh Rabb-nya kepada hamba-hambanya, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala mengajarkan kepada hambanya cara memujinya pada ayat sebelumnya. Dari sisi lain, selain Allah memuji dirinya, dan mengajarkan pujian tersebut kepada hamba-hambanya, yang demikian itu juga bermakna perintah agar kita senantiasa memuji-nya, karena hanya ia lah yang berhak untuk di puji dengan pujian yang mulia. Berkata imam Ibnu Katsir: dengan ini menunjukkan bahwa pada awal surat Allah mengabarkan kepada hambanya pujian-pujian terhadap dirinya dengan memuji dzat-nya yang mulia dengan sifat-sifat yang terindah, sekaligus mengajarkan dan memerintahkan hamba-hambanya untuk memujinya dengan pujian-pujian yang telah diajarkan-nya.
            Dengan kata lain, maka

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Pun, bermakna perintah, bahwa Allah subhanahu wata’ala memerintahkan hambanya untuk hanya menyembahnya, dan hanya memohon kepadanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Qotadah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين
Melalui ayat ini Allah memerintahkan kalian untuk hanya beribadah kepadanya, dan hanya memohon pertolongan kepadanya untuk kebaikan urusan-urusan kalian.
            Sedangkan didahulukannya إِيَّاكَ نَعْبُدُ (hanya engkau lah yang kami sembah) dari pada وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (hanya kepada engkau lah kami meminta pertolongan), karena ibadah itu adalah maksud atau tujuan, sedangkan Isti’anah (memohon pertolongan) adalah wasilah untuk sampai kepadanya (tujuan/maksud).  
Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.  QS. Ad Dzariyat: 56.

            Ibadah adalah tujuan atau maksud dari penciptaan manusia di dunia, dan maksud dari pada ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla, sebagaimana yang dijelaskan Sulthonul Ulama Al Imam Izzuddin bin Abdissalam dalam kitabnya “Maqosidul Ibadah”.

            Syaikh Ali Ash Shobuni juga menjelaskan sebab digunakannya kata “kami” dan bukan kata “saya” pada ayat tersebut, untuk memberitahukan betapa lemahnya seorang hamba di hadapan kerajaan Allah Subhanahu wata’ala, seolah-olah ia mengatakan: Ya Rabb.. aku hanyalah seorang hamba yang kecil dan lemah, tidak pantas bagiku berdiri dihadapan mu untuk memohon atas diriku sendiri, maka aku turutkan juga doaku atas orang-orang beriman dan orang-orang yang bertauhid, maka kabulkanlah doa ku, dan kami semuanya menyembahmu dan memohon pertolongan hanya kepada mu.

            Guru kami ketika belajar di Al Azhar menjelaskan, hikmah shalat berjamaah, dan bacaan surat Al Fatihah dengan kata ganti “kami” adalah, ketika seseorang sholat, membaca surat Al Fatihah, dan meng “Aamiin” kannya, belum tentu “Aamiin”nya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Tapi ketika ia ikut serta dalam sholat berjamaah, maka setelah imam membaca surat Al Fatihah, semua makmum meng “Aamiin” kan, dan kita tidak tahu “Aamiin” yang mana yang akan dikabulkan Allah Azza wa jalla, tapi jika ada satu “Aamiin” seorang makmum yang dikabulkan Allah, maka “Aamiin”nya itu berlaku untuk semua jamaah. Artinya doa yang ada di dalam surat Al Fatihah didapatkan oleh semua jamaah yang hadir, meski diantara mereka ada “Aamiin” yang belum dikabulkan Allah, tapi dengan “Aamin” satu orang makmum yang tidak diketahui, ia pun juga mendapatkan pengabulan doa tersebut.

            Oleh karena itu imam Ibnu Katsir mengatakan,sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian salafus shalih: Al Fatihah adalah inti dari Al Qur an, dan inti dari Al Fatihah adalah

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين






            Ayat ke enam
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus,

            Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ
{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ
{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ
{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }
قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ
{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }
قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ
{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }
قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa shalat tanpa membaca Ummul Qur'an, maka shalatnya tidak sempurna, tidak sempurna, tidak sempurna.” Abu Hurairah di Tanya; ‘Bagaimana bila kami berada di belakang imam?’ Dia menjawab; ‘Bacalah Al Fatihah dengan suara lirih, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman: 'Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu setengah-setengah, dan hambaku mendapatkan apa yang dia minta.

Apabila seorang hamba membaca; 'Alhamdulillahi rabbil 'alamin.’
Allah menjawab; ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’

(ketika) seorang hamba membaca; ‘Arrahmaanir rahiim.’
 Allah berfirman; ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’

 (ketika) seorang hamba membaca; ‘Maaliki yaumid diin.’
Allah berfirman; ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’

(ketika) seorang hamba membaca; ‘Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin.’
Allah berfirman; ‘Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, sedangkan bagi hamba-Ku apa yang di mintanya.’

 (ketika) seorang hamba membaca; ‘Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdluubi 'alaihim waladl dllaallliin.’
Allah berfirman; ‘Inilah bagian dari hamba-Ku, dan baginya apa yang di minta." (Riwayat Imam Muslim)

            Setelah memuji Allah dengan pujian yang indah, kemudian kita mengatakan ‘Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin.’, maka Allah pun berfirman: ‘Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, sedangkan bagi hamba-Ku apa yang di mintanya.’

            Barulah kita meminta kepada Allah atas apa yang kita butuhkan, dan yang paling kita butuhkan dari semua kebutuhan kita adalah hidayah Allah Subahanahu wata’ala. Begitu juga adab dalam setiap doa yang kita minta kepada Allah Subhanahu wata’ala, hendaknya dimulai dengan pujian-pujian kepada Allah, dan bersholawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

            Imam Ibnu Katsir mengatakan: Karena ia lah (Allah) yang menetapkan kebutuhan hambanya, dan ia pula yang memenuhinya. Dan dengan ini, Allah menunjukkan kepada kita, bahwa ia lah yang maha sempurna. Dan terkadang doa bisa juga dalam bentuk pengabaran tentang kondisi orang yang berdoa dan kebutuhan-kebutuhan, sebagaimana doa Nabi Musa ‘Alaihissalam:

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". QS. Al Qashash: 24

Dan bisa juga dengan menyertai sifat-sifat Allah yang mulia, sebagaimana doa Nabi Yunus ‘Alahissalam:

لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

"Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".   QS. Al Anbiya’: 87. Dan bisa juga doa itu hanya berisikan pujian-pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala.

            Imam Ibnul Qoyyim berkata di dalam kitabnya “Al Wabil Ash Shoyyib”: Dzikir lebih afdhal dari pada doa, karena dzikir adalah pujian kepada Allah dengan sifat-sifat dan nama-namanya yang mulia, sedangkan doa adalah permintaan seorang hamba kepada Rabb-nya, sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ وَفَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ

Dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rabb Azza wa Jalla berfirman; "Barangsiapa disibukkan oleh Al Qur`an dan berdzikir kepadaku untuk memohon kepadaKu, maka Aku akan memberikan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon, " dan kelebihan kalamullah (Al Qur`an) dari seluruh kalam adalah seperti kelebihan Allah dari seluruh makhlukNya." (Riwayat Imam At Tirmidzi, No. 2850). Maka dianjurkan bagi setiap muslim untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memulainya dengan memuji Allah Azza wa jalla, kemudian ia meminta dari kebutuhan-kebutuhannya.
           
            Dikisahkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendengar seorang pemuda yang berdoa di dalam sholatnya dan tidak mengucapkan pujian-pujian kepada Allah, dan tidak pula bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi: “Orang ini telah tergesa-gesa”. Kemudian beliau memanggilnya dan berkata kepadanya atau kepada yang lainnya: “Apabila diantara kalian berdoa, maka mulailah dengan pujian-pujian kepada Allah, kemudian diikuti dengan bershalawat kepada Nabi Shalallahu ‘alahi wasallam, kemudian barulah ia berdoa dengan doa yang ia kehendaki”.

            Faedah doa yang dimulai dengan dzikir, pujian kepada Allah, dan sholawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya adalah menjadikan doa dikabulkan oleh Allah Azza wa jalla. Sebagaimana yang dijelaskan imam Ibnul Qoyyim di dalam kitabnya “Al Wabil Ash Shoyyib” : Doa yang dimulai dengan dzikir dan pujian kepada Allah lebih afdhal dan lebih dekat dengan pengabulan Allah dari pada doa yang tidak dimulai dengan dzikir, pujian, dan sholawat, dan apabila ditambah dengan menceritakan kondisinya kepada Allah, menyebutkan kelemahan-kelemahannya kepada Allah, dan menyampaikan kesusahan-kesusahannya kepada Allah, dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya, keta’atannya kepada Allah, dan amal-amal sholehnya, maka ini menjadikan doanya akan lebih dikabulkan Allah Azza wa jalla.

            Di dalam surat Al Fatihah ini, betapa banyak faedah yang dapat kita petik darinya, diantaranya adalah adab dalam berdoa yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Diawali dengan pujian kepada Allah, kemudian berdoa kepada Allah dengan doa terbaik, yaitu doa memohon  hidayah kepada Allah, yang juga diajarkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Adapun makna hidayah adalah “Al Irsyad dan  At Taufiq” yaitu petunjuk, sebagaimana yang dikatakan oleh imam Ibnu katsir di dalam tafsirnya.

            “Shiratol mustaqim”  berkata imam Ibnu Jarir Ath Thabari: adalah jalan yang lurus dan jelas yang tidak ada bengkoknya. Akan tetapi yang dimaksud dengan jalan yang lurus atau jalan yang jelas yang tidak ada bengkoknya itu, para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan maksud jalan yang lurus itu adalah Al Qur an, ada juga yang mengatakan maksudnya adalah islam, dan kebanyakan mereka mengatakan bahwa maknanya adalah islam. Dan imam Ibnu katsir mengatakan di dalam tafsrinya, bahwa semua maksud maknanya sama.

            Adapun hidayah Allah kepada hambanya ada empat bentuk, berkata Syaikh Muhammad As Sayyid Jibril di dalam kitabnya “Ma’alimul Iman Fii Tafsiri Ummil Qur an” dari imam Ar Raghib Al Ashfahani di dalam kitabnya “Al Mufradat Fii Gharibil Qur an”:

1.     Hidayah yang bersifat umum, yang diberikan kepada setiap orang yang mukallaf, dalam bentuk akal, pemahaman, dan pengatahuan, yang dengannya ia dapat mengetahui segala sesuatu sesuai takarannya, dengan kemampuan yang dimilikinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَالَ رَبُّنَا ٱلَّذِىٓ أَعْطَىٰ كُلَّ شَىْءٍ خَلْقَهُۥ ثُمَّ هَدَى

Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.   QS. Thaha: 50

2.     Hidayah yang menjadikan manusia berbuat untuk menyampaikan apa yang disampaikan oleh para Nabi dan Al Qur an. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami. QS. As Sajadah: 24

3.     Hidayah yang ketiga adalah Taufiq yang diberikan Allah secara khusus kepada hambanya yang sudah mendapatkan hidayah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka. QS. Muhammad: 17

4.     Hidayah di akhirat untuk masuk ke dalam surga. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا

Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. QS. Al ‘Araf: 43

            Berkata Sayyid Quthub di dalam tafsirnya “Fi Zhilalil Qur an” dengan perkataan yang indah: “Ihdinasshirotholmustaqim” kita menyadari untuk mengetahui jalan yang lurus (yaitu Islam atau Al Qur an), kemudian istiqomah untuk selalu berada di atasnya setelah kita mengetahuinya. Karena ma’rifah atau pengetahuin kita dengan jalan yang lurus tersebut, dan keistiqomahan kita untuk tetap berada di atasnya, adalah buah dari pada hidayah Allah, pertolongannya, dan rahmatnya. Dan ini adalah sesuatu yang penting dan utama, yang diminta oleh seorang mukmin kepada Allah, karena hidayah kepada jalan yang lurus adalah garansi kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

            Maka ketika kita memohon kepada Allah dalam setiap sholat kita  Ihdinasshirotholmustaqim”, bermakna: tunjukkan kami dan tuntunlah kami ya Allah ke jalan mu yang benar, dan agama mu yang lurus, dan istiqomahkan kami dalam islam yang engkau utus dengannya para Nabi dan Rasul mu, dan dengannya engkau utus pula  Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, dan jadikan kami orang-orang yang berjalan di atas jalan orang-orang yang selalu mendekatkan diri  kepada mu. Dikatakan oleh Syaikh Ali Ash Shobuni di dalam kitab “As Shofwatu At Tafasir” .

            Ayat ke tujuh
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

            Sebelumnya kita mengatakan “iyyaka na’budu waiyyaka nastain” hanya engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan. Kemudian kita menyatakan permohonan yang paling kita butuhkan “ihdinasshirotholmustaqim” tunjukkan kami kepada jalan yang lurus yaitu islam. Dan jalan yang lurus itu “shiratholladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhu bi’alahim waladhollin” jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

            Siapakah orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah yang disebutkannya pada ayat diatas?  Maka imam Ibnu Katsir mengatakan: mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah Azza wa jalla di dalam surat An Nisa ayat 69-70:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

ذَٰلِكَ ٱلْفَضْلُ مِنَ ٱللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ عَلِيمًا

Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.

            Mereka yang mendapatkan nikmat tersebut dari Allah, adalah mereka ahli hidayah, istiqomah, ta’at kepada Allah dan Rasul-nya, menjalankan perintah-nya dan meninggalkan larangan-nya. Ibnu Abbas mengatakan: Jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka, dengan keta’atan dan ibadah kepada mu.

            “Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. Imam Ibnu Katsir berkata: “mereka yang dimurkai” adalah orang-orang yang tahu kebenaran tetapi mereka berpaling darinya, “mereka yang sesat” adalah orang-orang kehilangan ilmunya, maka mereka pun kehilangan arah dalam kesesatan yang tidak mendapatkan hidayah kepada kebenaran.

            Imam Ibnu Katsir melanjutkan: Sesungguhnya kelompok orang yang beriman menggabungkan antara ilmu dan amal, sedangkan yahudi mereka berilmu tapi mereka mengingkari pengamalannya, dan nasrani mereka tidak berilmu dan tidak pula mengetahui kebenaran, oleh karena itu orang-orang yang dimarahi itu adalah yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah nasrani, karena orang yang tahu tapi ia meninggalkannya, maka berhak untuk dimurkai, berbeda dengan sebaliknya bagi orang-orang yang tidak tahu (maka pantas bagi mereka untuk tersesat). Adapun orang nasrani, apabila ingin melakukan sesuatu, akan tetapi mereka tidak memiliki petunjuk untuk sampai kepadanya, karena mereka melakukan tanpa dasar ilmu yang benar, yaitu mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersamanyalah kebenaran, sehingga mereka pun tersesat. Dan semua orang yahudi dan nasrani itu tersesat dan dimurkai, akan tetapi sifat yang lebih khusus untuk yahudi adalah dimurkai, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 60 yang menceritakan tentang orang yahudi, maka Allah katakan:

مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ

yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah,

            Sedangka sifat yang lebih khusus untuk nasrani adalah tersesat. Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi, juga diriwayakan oleh imam Ahmad:

إِنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ الْيَهُودُ وَ الضَّالِّينَ النَّصَارَي

"Sesungguhnya yang dimaksud mereka yang dimurkai adalah kaum Yahudi, dan yang dimaksud mereka yang tersesat adalah kaum Nasrani."

            Berkata Syaikh Ali ‘Ash Shobuni, sebagaimana yang dikatakan Al Imam Fakhruddin Ar Razi: bahwa makna “ghairil maghdhu bi’alahim waladhollin” juga bermakna umum yang mencakup semuanya dari yahudi, nasrani, dan semua orang-orang yang menyimpang dari agama Allah, dan melenceng dari jalan yang lurus, sebagaimana imam Ar Razi juga memaknai “ghairil maghdhu bi’alahim waladhollin” (selain bermakna yahudi dan nasrani) adalah orang-orang kafir dan orang-orang munafik.

            Hal ini senada juga dengan yang dikatakan oleh imam Ibnu Katsir diatas, bahwa yahudi dan nasrani mereka sama-sama dimurkai dan sesat, hanya saja yang ini lebih khusus dengan yang itu dan yang itu lebih khusus dengan yang ini, begitu juga dengan orang yang mengikuti jalan-jalan mereka, baik dari kalangan kafir atau munafik, mereka pantas untuk dimurkai dan sesat, hanya saja mereka memiliki sifat yang lebih khusus dan lebih pantas atas penyimpangan mereka, dan berlaku juga bagi setiap orang yang menyimpang dari agama Allah, dan melenceng dari syariat yang lurus, karena tidak lain dan tidak bukan mereka telah mengikuti jalan-jalan yahudi dan nasrani, dan jalan-jalan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, sehingga mereka pantas dimurkai oleh Allah, dan tersesat dari jalan yang lurus, apabila tidak segera bertaubat kepada Allah, dan kembali ke jalan yang lurus.

            Ketika kita mengatakan “shiratholladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhu bi’alahim waladhollin”, Syaikh Ali Shobuni mengatakan: yaitu jalan yang dikaruniai dengan kebaikan dan nikmat, yang diperoleh oleh para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang sholeh, dan mereka itu lah teman sebaik-baiknya. Dan janganlah engkau jadikan kami ya Allah termasuk ke dalam golongan musuh-musuh mu, yang melenceng dari jalan yang lurus, yang berjalan di atas jalan yang menyimpang, yaitu yahudi yang dimurkai, dan nasrani yang tersesat, yang tersesat dari syariat mu yang suci, maka bagi mereka kemurkaan dan laknat yang kekal. Allahumma ‘Aamiin.

            Adapun “Aamiin” adalah kalimat doa, dan bukan bagian dari Al Qur an, karena tidak ada dituliskan kata tersebut di dalam Al Qur an, dan maknanya adalah: kabulkanlah doa kami ya Rabb. Sebagaimana yang dikatakan imam Al Alusi di dalam kitabnya Ruhul Ma’ani: Disunnahkan setelah mengakhiri bacaan untuk mengucapkan “Aamiin”, seperti yang dikisahkan di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam bahwa malaikat Jibril, ketika Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam membacakan kepadanya surat Al Fatihah, hingga sampai pada “Waladdholliin”, maka Jibril mengatakan: katakanlah “Aamiin” , maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamu pun mengucapkan “Aamiin”.

            Karena “Aamiin” bagian yang penting, kita meng- aminkan dan mengharapkan Allah mengabulkan doa kita yang terdapat di dalam surat Al Fatihah, yaitu memohon hidayahnya, setelah kita memujinya dengan pujian yang sempurna, maka diakhirnya kita tutup dengan “Aamin” ya Allah kabulkan doa kami.

            Inilah surat mulia diantara semua surat mulia yang ada di dalam Al Qur an, yang dipilih Allah Subhanahu wata’ala untuk dibaca berulang-ulang setiap kali sholat, bahkan tidak sah sholat apabila tidak membaca Al Fatihah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Dari 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah)." (Riwayat Imam Al Bukhori, No. 714)

            Sayyid Quthub mengatakan: Terungkap rahasia dari rahasia-rahasia dipilihnya surat ini untuk diulang-ulang minimal 17 kali sehari semalam, Maa Syaa Allah (atas kehendak Allah) Allah menjawab setiap pujian dan doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana yang dikatakan dalam hadits yang sudah disampaikan di awal tadabbur ayat ke enam, bahwa Allah Subhanahu wata’ala menjawab setiap ayat yang kita baca pada surat Al Fatihah, maka apabila kita membaca surat Al Fatihah 17 kali dalam sehari,  maka disetiap ayatnya Allah merespon setiap bacaan yang kita lantunkan, dan mengabulkan doa yang kita panjatkan.

            Oleh karena itu imam Hasan Al Banna menasehati: Hendaklah untuk sungguh-sungguh membacanya (surat Al Fatihah) baik dalam sholat ataupun diluar sholat dengan lembut dan pelan, dengan penuh kekhusyuan dan ketundukan, dengan memaknai setiap pesan yang disampai oleh ayat-ayatnya, dengan menunaikan hak-hak tajwidnya dan hukumnya, memahami makna lafaz-lafaznya, maka dengan begitu kita bisa memahaminya, dan dapat merangsang turunya air mata dari tempatnya, dan tidak ada yang lebih bermanfaat untuk hati dari tilawah dengan metadabburinya dengan khusyu’.

Wallahu ‘alam

            Alhamdulillah, dengan rahmat dan taufiq dari Allah, telah dituliskan tadabbur surat Al Fatihah, di bulan Al Qur an, bulan Ramadhan, yang kami sadari penuh dengan kekurangan, sesuai dengan kurangnya ilmu yang kami miliki. Semoga tadabbur surat Al Fatihah ini bermanfaat bagi setiap yang membacanya, dapat meningkatkan iman kepada Allah, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang kami harapkan selain balasan dari Allah, dengan kesetiaan kami untuk selalu menjadi khadim Al Qur an, Ilmu, dan Sunnah, semoga Allah istiqomahkan dan Allah kokohkan. Karena tiada keindahan di dunia ini, selain dengan menyibukkan diri sebagai khadim Al Qur an, Ilmu, dan Sunnah. 

أستغفر الله لي ولكم جميعا...

Sumber:
·       Kitab Tafsir Ibnu Katsir
·       Kitab Shofwatu At Tafasir, Syaikh Ali Ash Shobuni
·       Kitab Rowai’ul Bayan, Syaikh Ali Ash Shobuni
·       Kitab Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, Imam An Nawawi
·       Kitab Tafsir Fii Zhilalil Qur an, Sayyid Quthub
·       Kitab Ma’alimul Iman Fii Tafsir Ummil Qur an, Syaikh Muhammad As Sayyid Jibril
·       Kitab Al Wabil Al Shayyib, Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah


MARKAZ TAHFIDZ DAN BAHASA ARAB AL HANIFAH

           





Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUJJATUL ISLAM AL IMAM AL GHAZALI

Nasehat para ulama di tengah badai Corona