TADABBUR SURAT AL FATIHAH
TADABBUR SURAT AL FATIHAH
Surat Al fatihah adalah surat yang mulia, yang
terdiri dari tujuh ayat menurut pendapat yang rojih, dan tergolong dalam surat
makiyah yaitu surat yang diturunkan sebelum hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam ke madinah menurut pendapat rojih.
Dinamai surat Al Fatihah
karena ia merupakan surat pembuka di dalam Al Qur an, berdasarkan urutannya di
Al Qur an, bukan berdasarkan urutan turunnya dari langit kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena urutan turunnya kepada Rasulullah
berdasarkan sebab, kejadian, pertanyaan, dan asbabun nuzul lainnya, sedangkan
urutan peletakan surat dan ayat di dalam Al Qur an berdasarkan perintah Rasul
dari Jibril, dari Allah Subhanahu wata’ala.
Juga
dinamai Fatihatul Kitab karena ia merupakan surat pembuka yang dibaca setiap
sholat. Selain itu juga dinamai Ummul kitab atau Ummul Qur an karena kandungan
surat Al Fatihah mencakup sebagian besar asas-asas agama, mulai dari tentang ushuluddin
dan cabang-cabangnya, aqidah, ibadah, syariat, puji-pujian kepada Allah, ubdudiyah,
rububiyah, sifat-sifat Allah, keyakinan dengan hari akhir, memohon pertolongan
kepada Allah, memohon hidayah dan jalan yang lurus, memohon dengan imam yang
mantap dan mengikuti jalan orang-orang yang sholeh, dan menjauh dari
jalan-jalan orang yang dimurkai dan sesat, berita tentang umat terdahulu,
mengetahui tempat bagi orang-orang yang beruntung dan tempat bagi orang-orang
yang merugi, juga berisikan tentang penghambaan kepada Allah dengan menjalankan
semua perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, dan hal lainya yang
berkiatan dengan agama.
Selain Ummul qur an atau
Ummul Kitab, surat Al Fatihah juga dinamai dengan, As Sab’ul Matsani,
Al Hamd, As Sholah, As Syifa, Al Kafi, dan Al Wiqoyah. Di dalam bahasa Arab,
apabila sesuatu-sesuatu berkumpul pada suatu tempat, maka orang arab menyebut
tempat berkumpulnya sesuatu yang banyak itu dengan istilah “Umm” yaitu ibu, seperti
Ummul Quro (Makkah) tempat berkumpulnya orang banyak dari berbagai daerah,
kitab Al Umm (kitab imam Asy Syafii) dinamai Al Umm karena ia mencakup semua
permasalahan fiqh, begitu juga Ummul Qur an atau Ummul kitab, karena Al Fatihah
mencakup semua asas-asas agama islam di dalam tujuh ayat yang dihafal oleh
semua umat muslim. Maka surat Al Fatihah ibaratkan ibu bagi surat-surat yang
lain yang ada di dalam Al Qur an.
Ayat
pertama:
بسم الله الرحمن الرحيم
“Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”
Imam Al Qurthubi berkata di dalam kitab tafsirnya: ditulis dengan بسم (tanpa alif), karena lafaz Bismillah
itu sering digunakan, sedangkan firman Allah di dalam surah Al ‘Alaq yang
berbunyi إقرأ باسم ربك (ditulis alif pada “ba”-nya) karena sedikit
digunakan.
Apabila kita telusuri di dalam
kehidupan kita sehari-hari, maka kita dapati lafaz Bismillah sering kita
ucapkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah
haditsnya, yang ditulis oleh imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya:
كل أمر لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم،
فهو أجذم
“Setiap perkara yang tidak yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim
, maka ia terputus”
Berkata
imam As Syairozi di dalam kitabnya bahwa makna “terputus” dari hadits di atas
adalah terputus keberkahannya atau berkurang keberkahannya. Oleh karena itu
hendaknya kita memulai setiap aktivitas kita dengan bacaan Basmalah ,
agar mendapatkan keberkahan yang sempurna dan dinilai ibadah oleh Allah
subhanahu wata’ala.
Setiap
aktivitas kita yang paling penting feed back yang kita dapatkan darinya adalah keberkahan.
Apa yang dimaksud dengan keberkahan? Kata para ulama keberkahan adalah زيادة الخير (bertambahnya kebaikan),
dari harta yang kita peroleh yang paling penting darinya adalah bukan besaran
nilainya, tapi keberkahannya, besar nilai belum tentu cukup, besar nilai belum
tentu memenuhi keperluan, besar nilai harta yang didapat tapi membawa kita
kepada kemaksiatan kepada Allah, maka itu bukanlah harta yang berkah. Hartanya
biasa saja, penghasilannya biasa saja, tetapi keperluan terpenuhi, kebutuhan
tercukupi, bisa bayar zakat, bisa bersedekah, membuat hati tenang, dekat dengan
Allah, maka harta yang diperoleh itu adalah harta yang berkah, dilihat dari
sisi nilainya tidak seberapa, tapi karena keberkahannya, maka bertambah
kebaikan yang diperoleh darinya, itu makna berkah dari kacamata harta.
Benang
merah ini berlaku di setiap lini kehidupan manusia, bukan hanya dari kacamata
harta saja konsep keberkahan ini berlaku, tapi di semua aktivitas kehidupan,
dalam menuntut ilmu, dalam berumah tangga, dalam bersosialisasi, dan lainya,
jangan sampai kita menghilang nilai keberkahan dari aktivitas kita, dengan
selalu meniatkannya karena Allah dan memulainya dengan nama Allah.
Sebagaimana yang dijelaskan imam Ibnu Katsir
di dalam kitab tafsirnya:
Dianjurkan membaca basmalah setiap
memasuki sebuah tempat, dianjurkan membaca Basmalah disaat mau berwudhu,
dianjurkan membaca basmalah disaat mau menyembelih hewan, dianjurkan
membaca Basmalah disaat mau makan, dianjurkan membaca Basmalah disaat
mau berhubugan suami istri, dan dianjurkan membaca Basmalah disaat mau
memulai semua aktivitas, agar kita mendapatkan keberkahan, mendapatkan
kebaikan, mendapatkan pertolongan agar amalan kita sempurna dan diterima.
Selain itu, agar aktivitas kita dinilai ibadah oleh
Allah subhanahu wata’ala. Berkata Al ‘Allamah Syaikh Ahmad Ar Raisuni (Ketua persatuan
ulama dunia): ibadah itu
luas, ibadah bukan hanya sholat, zakat, puasa, tapi semua aktivitas baik seorang
muslim bisa menjadi ibadah. Maka jadikanlah setiap aktivitas kita ibadah kepada
Allah dengan meniatkannya karena Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
إنما الأعمال بالنيات
“Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya”
كل أمر لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم،
فهو أجذم
“Setiap perkara yang tidak yang tidak dimulai
dengan Bismillahirrahmanirrahim , maka ia terputus”
Ayat ke dua
الحمد لله رب العالمين
“Segala puji bagi Allah, tuhan seluruh alam”
Imam Abu Ja’far bin Jarir (penulis
kitab tafsir Jamiul Bayan ‘an Takwilil Qur an) berkata:
“Alhamdulillah” adalah Syukur kepada Allah dengan ikhlas,
tanpa ada yang disembah selainnya, dan tanpa bergantung kepada
makhluk-makhluknya, atas segala nikmat yang diberikannya kepada hamba-hambanya,
yang tidak dapat dihitung dan tidak pula ada yang mengetahui jumlahnya kecuali sang
pemberinya, bersyukur atas dibukakannya wasilah ketaatan kepadanya, bersyukur
atas anggota tubuh yang masih bisa menjalankan perintahnya, bersyukur atas
pemberian rezeki yang dianugrahkannya, dan dengannya kita dapat merasakan
kenikmatan hidup, yang tidak akan didapatkan kecuali darinya, yang dengan
nikmat itu mengingatkan kita kepada sang pemberinya, dan membawa kita kembali
kepadanya, yang menjadi sebab dimasukkannya ke dalam surga yang penuh
kenikmatan dan kekal selamanya. Maka bagi Rabb kita segala puji baginya atas
semuanya, mulai dari awalnya hingga akhirnya.
Imam Ibnu Jarir juga berkata:
“Alhamdulillah” adalah pujian Allah untuk dirinya, yang juga mengandung makna
perintah kepada hamba-hambanya, agar mereka memujinya dengan pujian yang
diajarkannya.
Berkata Imam Al Qurthubi: “Al Hamdu”
bermakna adalah pujian yang sempurna, dalam bahasa arab “Al Hamdu” ((الحمد ,aslinya “Hamdun” ( (حمدtanpa "alif lam" ((ال,
dan ditambahkan “alif lam” menjadi “Al Hamdu” ( ,(الحمدyang memiliki makna segala bentuk pujian, dan pujian yang
mutlak. Maksudnya bahwa dengan mengucapkan “Alhamdulillah”, kita mengucapkan
pujian kepada Allah, yang mencakup segala bentuk pujian, dan pujian kepada
Allah adalah pujian yang mutlak.
Guru kami berkata, disaat masih
menuntut ilmu di Al Azhar, diantara hikmah diturunkannya Alhamdulillah, bahwa
karena besarnya kemuliaan dan keagungan Allah, manusia tidak tahu dan bingung
bagaimana cara memuji Allah yang tepat, sehingga Allah turunkan, dan Allah
ajarkan hamba-hambanya cara memujinya dengan lafaz
“Alhamdulillahirabbil’alamin” segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.
Di dalam Tafir Ibnu Katsir, penulis
imam Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata bahwa Umar bin Khattab
berkata: kami sudah tahu kalimat “Subahanallah, laa ilaaha illallah,”, dan apa
itu Alhamdulillah?. Ali bin Abi Thalib menjawab: ia adalah kalimat yang
diridhoi Allah untuk dirinya.
Didalam
riwayat lain Ali bin Abi Thalib berkata: ia adalah kalimat yang disukainya
(Allah), yang diridhoinya, dan disukainya untuk diucapkan.
Imam Ibnu
Katsir juga menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata: Alhamdulillah
adalah kalimat syukur, apabila seorang hamba mengatakan “Alhamdulillah”, maka
Allah akan mengatakan: “hambaku telah bersyukur kepadaku”. Imam Ibnu Katsir
mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
Berkata syaikh Ali Ash
Shobuni di dalam kitabnya Shofwatu At Tafasir:
“Alhamdulillah” adalah bentuk pujian yang indah, untuk
mengangungkan dan memuliakan yang terhubung dengan makna cinta, lawan dari
celaan, dan dia lebih umum dari pada syukur, karena syukur baru terealisasi setelah
diberikan nikmat, sedangkan pujian berbeda.
Didalam tafsirnya, imam Ibnu Katsir
lebih menjelaskan bahwa, “Al Hamdu” atau pujian, lebih umum dari pada syukur
disatu sisi, dan lebih khusus dari pada syukur di satu sisi lainnya. Begitu
juga, syukur lebih umum dari pada pujian di satu sisi, dan lebih khusus dari pujian di satu sisi lainya.
Pujian lebih umum dari pada syukur
karena pujian itu berlaku meski tanpa pemberian, dan pujian lebih khusus dari
pada syukur karena pujian hanya bisa diaplikasikan dalam bentuk perkataan.
Sedangkan syukur, lebih umum dari pada pujian karena syukur bisa diaplikasikan
dalam bentuk perkataan, perbuatan, dan niat, dan dia juga lebih khusus dari
pada pujian karena ia berlaku apabila ada pemberian.
Syaikh Ali Ash Shobuni juga berkata
di dalam kitab tafsirnya bahwa dengan diturunkan ayat
“Alhamdulillahirabbil’alamin”, Allah subhanahu wata’ala mengajarkan kepada kita
bagaimana hendaknya kita memujinya, mensucikannya, memuliakannya, yang mana
ialah pemilik segala pujian, maka diturunkannya “Alhamdulillahirabbil’alamin”,
seolah-olah Allah mengatakan kepada hambanya “wahai hambaku, jika kalian mau
bersyukur kepada ku, dan mau memuji ku, maka katakanlah “Alhamdulillah”,
bersyukurlah kepada ku atas segala kebaikanku kepada kalian, akulah Allah yang
memiliki keagungan, kemuliaan, dan kebesaran, aku lah yang menciptakan alam
semesta, tuhan semua manusia, semua jin, semua malaikat, tuhan langit dan bumi.
Maka pujian dan kesyukuran hanya untuk Allah, tuhan semesata alam, dan tidak ada
yang berhak disembah selainnya”.
Adapun mengenai lafaz “Allah”, imam
Ibnu Katsir menyebutkan ini merupakan nama Allah subhanahu wata’ala, nama yang
paling mulia, karena nama ini mencakup semua sifat Allah subhanahu wata’ala.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ
عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ۖ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ
Dialah Allah
Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
ٱلْمَلِكُ ٱلْقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلْمُؤْمِنُ ٱلْمُهَيْمِنُ ٱلْعَزِيزُ
ٱلْجَبَّارُ ٱلْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dialah Allah
Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang
Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha
Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.
هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ
ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
Dialah Allah
Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul
Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. Al Hasy: 22-24
Imam Ibnu katsir juga
mengatakan: dan nama ini adalah nama yang belum ada dan tidak ada yang dinamai
dengan nama ini selain Allah tabaroka wa ta’ala.
Maka jika kita teliti, tidak satupun orang dunia ini yang dinamai dengan nama
yang mulia ini, bahkan di zaman jahiliyah pun tidak ada satupun orang yang
dinamai dengan nama yang mulia ini. Jika adapun orang yang
dinamai dengan nama yang mulia ini, maka akan digabungkan
dengan kata yang lain seperti “Abdullah” yang artinya hamba Allah. Begitulah
Allah subhanahu wata’ala menjaga kemulian namanya.
Berkata Ibnu Hayyan dalam
tafsirnya kitab Bahrul Muhith: lafaz “Allah” adalah nama yang dinisbat hanya
kepada Allah sendiri, dan tidak boleh dinisbatkan kecuali hanya kepada yang
berhak disembah saja (yaitu Allah azza wa jalla).
Oleh karena itu, hendaknya
kita selalu menyebut-nyebut nama yang mulia ini, hendaknya kita selalu
membasahi hati dan lisan kita dengan selalu menyebut-nyebut namanya yang mulia
ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى
وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu,
ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah
kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. QS. Al Baqoroh: 152
Imam Ibnul Qoyyim berkata:
sesungguhnya dengan membiasakan berdzikir di jalan, di rumah, di tempat mana
pun, akan memperbanyak saksi seorang hamba nanti di hari kiamat, sesungguhnya
bumi akan menjadi saksi bagi orang yang bedzikir di hari kiamat.
Ayat ke tiga
ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Yang maha pengasih lagi Maha
Penyayang.
Sebelumnya lafaz ini sudah ada pada ayat pertama surat Al Fatihah, tapi kemudian Allah subhanahu wata’ala mengulang untuk ke dua kalinya pada ayat ke tiga, dengan menjadikannya satu ayat khusus pada ayat ke tiga. Pengulangan ini bukan hanya sekedar pengulangan, tentu ada maksud dari sang pencipta kenapa lafaz yang mulia ini diulang bahkan dijadikan satu ayat khusus.
Sebelumnya lafaz ini sudah ada pada ayat pertama surat Al Fatihah, tapi kemudian Allah subhanahu wata’ala mengulang untuk ke dua kalinya pada ayat ke tiga, dengan menjadikannya satu ayat khusus pada ayat ke tiga. Pengulangan ini bukan hanya sekedar pengulangan, tentu ada maksud dari sang pencipta kenapa lafaz yang mulia ini diulang bahkan dijadikan satu ayat khusus.
Sebelum membahas maksud
pengulangan ayat lafaz tersebut, kita telusuri dulu makna dari lafaz yang mulia
ini. “Ar Rahman Ar Rahim” adalah nama dari nama-nama Allah subhanahu wata’ala. “Ar
Rahman” artinya yang maha pengasih, dan “Ar Rahim” artinya yang maha penyayang.
Para ulama tafsir mengatakan kedua-duanya berasal dari kata “Ar Rahmah (الرحمة) .
Para
ulama tafsir mengatakan bahwa makna “Ar Rahman” lebih umum dari pada makna “Ar
rahim”. Imam Ibnu Katsir berkata: sebagaimana yang dikatakan di dalam sebuah
Atsar, dari Isa ‘alaihi as salam, ia berkata: “Ar Rahman untuk di dunia dan
akhirat, dan Ar Rahim untuk di akhirat”.
Imam
Al Khathobi mengatakan: “Ar Rahman” yang maha pengasih, yang mencakupi semua makhluk,
baik muslim atau kafir, dalam pemberian rezekinya, atau kemashlahatan hidupnya.
Sedangkan “Ar Rahim” khusus untuk orang-orang beriman. Allah subhanahu wata’ala
berfirman:
وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dan adalah Dia
Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.
Imam Ibnu Jarir Ath Thobari berkata: “Ar Rahman” untuk semua makhluk, dan “Ar Rahim” khusus untuk orang-orang yang beriman.
Imam Ibnu Jarir Ath Thobari berkata: “Ar Rahman” untuk semua makhluk, dan “Ar Rahim” khusus untuk orang-orang yang beriman.
Rasulullah shallallahu
‘alahiwasallam bersabda, yang diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi dari
Abdurrahman bin Auf:
فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا
اللَّهُ وَأَنَا الرَّحْمَنُ خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا مِنْ اسْمِي فَمَنْ
وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ
Kemudian
berkatalah Abdurrahman; Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfiman: 'Akulah Allah, dan
Aku adalah Ar Rahman. Aku telah menciptakan kasih sayang yang aku ambilkan dari
nama-Ku. Maka siapa yang menyambungnya, akau akan menyambungnya, dan siapa yang
memutuskannya, maka Aku akan memutuskan kasih sayang-Ku darinya.
Imam Ibnu Katsir berkata: dimulai
dengan nama Allah “Bismillah”, (yang mana lafaz “Allah” sebagaimana yang
sudah di jelaskan pada ayat sebelumnya mencakup semua sifat Allah subhanahu
wata’ala), kemudian dilanjukan dengan sifat “ Ar Rahman” yang lebih khusus, dan
lebih umum dari “Ar Rahim”, dimulai dengan “Bismillah” diawal karena itu
merupakan nama Allah yang paling masyhur dan mulia, kemudian dilanjutkan dengan
sifat yang khusus (“Ar Rahman” untuk semua makhluk, orang beriman, termasuk
juga orang kafir), kemudian dilanjutkan dengan sifat yang lebih khusus lagi
(“Ar Rahim” khusus untuk orang-orang beriman).
Kemudian lafaz “Ar Rahman Ar Rahim”
di ulang lagi untuk kali ke dua, pada satu ayat khusus, ayat ke tiga pada surat
Al Fatihah. Berkata Sayyid Quthub di dalam kitab tafsirnya “Fi Zhilalil Qur
an”: diulanginya lafaz “Ar Rahman Ar Rahim” pada sumsum surat, pada satu ayat
khusus, untuk menguatkan tanda yang jelas dari ketuhanan Allah subhanahu
wata’ala atas semua makhluknya, untuk memantapkan tonggak hubungan antara Rabb
dan hamba-hambanya, antara pencipta dan ciptaannya, sesungguhnya hubungan itu
adalah hubungan kasih sayang, yang menuntut kita untuk memujinya dan
memuliakannya, dan juga hubungan yang
berdiri diatas ketenangan dan mengalir diatas kecintaan. Maka “Alhamdulillah”
segala puji bagi Allah adalah respon yang mulia atas rahmatnya yang mulia.
Al ‘Allamah Syaikh Ali Shobuni
mengatakan: (الرحمن الرحيم) “yang maha pengasih lagi maha penyayang”
atau yang luas rahmatnya yang menerangi segalanya, terpancar keutamaannya
kepada seluruh makhluknya, dengan nikmat yang diberikan kepada hamba-hambanya,
dari penciptaannya di muka bumi, dari rezeki yang diberikan, dari hidayah yang
membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Dialah Rabb yang mulia, yang
rahmatnya selalu memancarkan kebaikan.
Jika
kita mengakui diri kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, maka kita
beriman bahwa Allah adalah yang maha pengasih, yang memberikan kehidupan, yang
memberikan rezeki, yang memberikan kenikmatan, yang memberikan hidayah untuk
hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Bahkan pemberiannya tidak terbatas hanya
pada hambanya yang taat kepadanya, tapi pemberiannya juga berlaku untuk
orang-orang kafir. Maka sebagai orang yang beriman, tidak pantas apabila suatu
nikmat yang belum didapatkan, kemudian berkeluh kesah dan menyalahkan Allah
subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ
خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ
وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu
membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui.
Sebaliknya, apabila nikmat itu sudah didapatkan, maka janganlah kufur atas nikmat tersebut, Allah subhanahu wata’la berfirman:
Sebaliknya, apabila nikmat itu sudah didapatkan, maka janganlah kufur atas nikmat tersebut, Allah subhanahu wata’la berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن
كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Pada intinya, semua isi
kehidupan orang mukmin itu adalah nikmat, semua isi kehidupan orang mukmin itu adalah kebaikan.
Sudah jelas disetiap nikmat itu adalah nikmat, dan disetiap musibah, petaka,
atau yang selain dianggap nikmat, pasti ada hikmah dibalik itu semua, apabila
kita menyadari hikmah dibalik semua kejadian itu, maka itulah nikmat. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ
خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa Salam bersabda: "perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya
semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min,
bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila
tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya."
Ayat ke empat
مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
Yang menguasai
di Hari Pembalasan.
Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa kata “Maalik” (مالك) diambil dari kata “Al Mulk” (الملك), sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa kata “Maalik” (مالك) diambil dari kata “Al Mulk” (الملك), sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
لِّمَنِ ٱلْمُلْكُ ٱلْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ
ٱلْوَٰحِدِ ٱلْقَهَّارِ
"Kepunyaan
siapakah kerajaan pada hari ini?" Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha
Mengalahkan. QS Al Ghafir: 16
ٱلْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِ ۚ
وَكَانَ يَوْمًا عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ عَسِيرًا
Kerajaan yang
hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari
itu), satu hari penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. QS Al Furqon: 26
Jadi, “maalik” bermakna raja atau penguasa, dan “al mulk” berarti kerajaan
atau kekuasaan.
Pada ayat ini Allah
menyebutkan secara khusus kekuasaannya pada hari pembalasan, bukan berarti di
hari selain hari pembalasan Allah subhanahu wata’ala tidak berkuasa, karena
ialah sang maha kuasa atas segala sesuatu. Sebagaiamana yang dikatakan imam
Ibnu Katsir: pengkhususan atas kekuasaan di hari pembalasan tidak menafikan
kekuasaanya atas yang lain selain hari pembalasan, karena pada ayat sebelumnya
sudah dikabari bahwa ialah “Rabbal ‘alamin” yaitu Rabb semesta alam, yaitu
dunia dan akhirat.
Para ulama mengatakan,
makna “Alam” adalah كل
ما سوى الله (segala sesuatu selain Allah). Kemudian
melanjutkan perkataan imam Ibnu Katsir: dan sesungguhnya ditambahkan kepada
hari pembalasan, menguatkan bahwasanya tiada yang berkuasa atas sesuatu pun
selain Allah, bahkan tidak ada yang bisa berkata-kata sedikitpun kecuali atas
izin Allah.
Maksud
dari perkataan imam Ibnu katsir, bahwa di ayat sebelumnya Allah subhanahu
wata’ala sudah menyatakan bahwasanya ialah “Rabbal ‘Alamin”, kemudian pada ayat
ke empat, Allah menambahkan lagi peryataannya bahwa ialah penguasa atau raja di
hari pembalasan. Maksud pernyataan Allah subhanahu wata’ala ini adalah,
sebagaiamana yang dijelaskan oleh imam Ibnu Katsir, menunjukkan kepada
penguatan bahwa tiada yang berkuasa atas sesuatu pun selain Allah, bahkan tidak
ada yang bisa berkata-kata sedikitpun kecuali atas izin Allah.
Sebagaiamana firman Allah azza wa jalla:
يَوْمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ
صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَٰنُ وَقَالَ
صَوَابًا
Pada hari,
ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata,
kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah;
dan ia mengucapkan kata yang benar. QS. An Naba’: 38
Berkata Ad Dahhak dari
Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: tidak ada yang berkuasa pada hari itu untuk
menghakimi, sebagaimana kuasa mereka ketika di dunia. Dan dia (Ibnu Abbas)
berkata: hari pembalasan adalah hari perhitungan bagi hamba-hamba Allah, hari kiamat,
hari dibalasnya semua perbuatan, apabila baik maka baik pula balasannya,
apabila buruk maka buruk pula balasannya, kecuali bagi yang diampuni Allah
subahanahu wata’ala. Begitu juga yang dikatakan oleh selainnya dari kalangan
sahabat, tabi’in dan salafus sholih.
Imam Syahid Hasan Al Banna
mengatakan dengan perkataan yang sangat indah sekali tentang ayat ini,
sebagaimana yang dikutib oleh Al ‘Allamah Asy Syaikh Ali Ash Shobuni di dalam
kitabnya “Shofwatu At Tafasir”: apabila seperti itu (yaitu akan dibalasnya
semua perbuatan manusia di hari pembalasan), maka seorang hamba dituntut untuk
bersungguh-sungguh dalam beramal baik, dan mencari jalan-jalan menuju keselamatan.
Dalam hal ini, inilah kebutuhan yang paling dibutuhkan seorang hamba untuk
mendapatkan hidayah dari Allah kepada jalan yang benar, dan mendapatkan
pentunjuk dari Allah kepada jalan yang lurus, dan tidak ada yang lebih penting
dari pada itu bagi seorang hamba, maka memohonlah kepadanya, bersandarlah hanya
kepadanya, dan katakan kepadanya:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta
pertolongan.” Kemudian mintalah kepadanya hidayah untuk ditunjukkan kepada
jalan yang lurus.
Ayat ke lima
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah
yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Ibadah adalah tujuan hidup manusia di muka bumi, oleh karena itu setiap manusia mesti menghambakan dirinya kepada Allah, agar ia tidak melenceng dari tujuan penciptaannya di muka bumi. Allah subhanahu wata’la berfirman:
Ibadah adalah tujuan hidup manusia di muka bumi, oleh karena itu setiap manusia mesti menghambakan dirinya kepada Allah, agar ia tidak melenceng dari tujuan penciptaannya di muka bumi. Allah subhanahu wata’la berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS. Ad Dzariyat: 56
Para ulama tafsir
mengatakan bahwa ibadah secara bahasa artinya adalah “Adz Dzillah atau Al
Khudu’” yaitu ketundukan, sedangkan secara istilah ibadah bermakna “perbuatan yang
dilakukan dengan penuh kecintaan, ketundukan, dan ketakutan”.
Jika dilihat pada ayat
lima diatas, maka kita dapati kalimat tersebut mendahulukan objeknya dari pada
kata kerjanya (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) “hanya engkau yang kami sembah”.
Maka menjelaskan imam Ibnu katsir di dalam tafsirnya: pendahuluan objek atas
prediketnya, juga pengulangan hal tersebut pada kalimat selanjutnya
bermakna “Al Ihtimam” benar-benar mementingkan
ibadah hanya kepada Allah dan “Al Hashr” membatasi bahwa tiada yang
diibadati selain Allah, maknanya: “kami benar-benar tidak menyembah selain
menyembah engkau ya Allah, dan tidak bertawakkal selain kepada engkau ya Allah.
Dan inilah keta’atan yang sempurna.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah
yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Ayat ini adalah ungkapan terindah
dari seorang hamba kepada Rabb-nya, ketika seorang hamba membaca ayat ini di
dalam sholatnya, seolah-olah ia mengungkap perasaan terindahnya kepada
Rabb-nya. Syaikh Ali Ash Shobuni mengatakan di dalam kitab tafsirnya “As
Shofwatu At Tafasir”:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah
yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Atau bermakna: Kami
mengkhususkan ibadah kami hanya untuk engkau ya Allah, dan kami mengkhususkan
permintaan kami hanya kepada engkau ya Allah, dan kami tidak menyembah selain
engkau ya Allah, hanya kepada engkau sajalah kami tunduk, hanya kepada engkau
sajalah kami patuh, dan hanya kepada engkau pula lah wahai Rabb kami, kami
memohon pertolongan untuk bisa menjadi hamba mu yang taat kepada mu, dan ridho terhadap
takdir mu, sesungguhnya engkau lah yang maha memiliki segala kemuliaan dan
keagungan, dan tidak ada yang memiliki kemampuan untuk menolong kami satupun
kecuali engkau ya Allah.
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami
jalan yang lurus,
Berkata Ad Dahhak, dari Ibnu Abbas:
makna إِيَّاكَ نَعْبُدُ adalah hanya engkaulah yang kami esakan, hanya engkaulah yang
kami takutkan, hanya kepada engkaulah kami berharap wahai Rabb kami dan tiada
tempat berharap selain kepada engkau ya Rabb, وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ dan hanya kepada engkaulah kami memohon untuk menjadikan kami
hamba mu yang taat kepada mu, dan untuk kebaikan setiap urusan-urusan kami.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah
yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Selain merupakan bentuk ungkapan dan
pernyataan yang indah dari seorang hamba kepada Rabb-nya, yang dianjarkan oleh
Rabb-nya kepada hamba-hambanya, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala
mengajarkan kepada hambanya cara memujinya pada ayat sebelumnya. Dari sisi
lain, selain Allah memuji dirinya, dan mengajarkan pujian tersebut kepada
hamba-hambanya, yang demikian itu juga bermakna perintah agar kita senantiasa
memuji-nya, karena hanya ia lah yang berhak untuk di puji dengan pujian yang
mulia. Berkata imam Ibnu Katsir: dengan ini menunjukkan bahwa pada awal surat
Allah mengabarkan kepada hambanya pujian-pujian terhadap dirinya dengan memuji
dzat-nya yang mulia dengan sifat-sifat yang terindah, sekaligus mengajarkan dan
memerintahkan hamba-hambanya untuk memujinya dengan pujian-pujian yang telah
diajarkan-nya.
Dengan kata lain, maka
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah
yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Pun,
bermakna perintah, bahwa Allah subhanahu wata’ala memerintahkan hambanya untuk
hanya menyembahnya, dan hanya memohon kepadanya. Sebagaimana yang dikatakan
oleh Qotadah:
إِيَّاكَ
نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين
Melalui
ayat ini Allah memerintahkan kalian untuk hanya beribadah kepadanya, dan hanya
memohon pertolongan kepadanya untuk kebaikan urusan-urusan kalian.
Sedangkan didahulukannya إِيَّاكَ نَعْبُدُ (hanya engkau lah yang kami sembah) dari
pada وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (hanya kepada engkau
lah kami meminta pertolongan), karena ibadah itu adalah maksud atau tujuan,
sedangkan Isti’anah (memohon pertolongan) adalah wasilah untuk sampai
kepadanya (tujuan/maksud).
Allah
subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS. Ad Dzariyat: 56.
Ibadah adalah tujuan atau
maksud dari penciptaan manusia di dunia, dan maksud dari pada ibadah adalah
untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla, sebagaimana yang dijelaskan Sulthonul
Ulama Al Imam Izzuddin bin Abdissalam dalam kitabnya “Maqosidul Ibadah”.
Syaikh Ali Ash Shobuni
juga menjelaskan sebab digunakannya kata “kami” dan bukan kata “saya” pada ayat
tersebut, untuk memberitahukan betapa lemahnya seorang hamba di hadapan
kerajaan Allah Subhanahu wata’ala, seolah-olah ia mengatakan: Ya Rabb.. aku
hanyalah seorang hamba yang kecil dan lemah, tidak pantas bagiku berdiri
dihadapan mu untuk memohon atas diriku sendiri, maka aku turutkan juga doaku
atas orang-orang beriman dan orang-orang yang bertauhid, maka kabulkanlah doa
ku, dan kami semuanya menyembahmu dan memohon pertolongan hanya kepada mu.
Guru kami ketika belajar
di Al Azhar menjelaskan, hikmah shalat berjamaah, dan bacaan surat Al Fatihah
dengan kata ganti “kami” adalah, ketika seseorang sholat, membaca surat Al
Fatihah, dan meng “Aamiin” kannya, belum tentu “Aamiin”nya dikabulkan oleh
Allah Subhanahu wata’ala. Tapi ketika ia ikut serta dalam sholat berjamaah, maka
setelah imam membaca surat Al Fatihah, semua makmum meng “Aamiin” kan, dan kita
tidak tahu “Aamiin” yang mana yang akan dikabulkan Allah Azza wa jalla, tapi
jika ada satu “Aamiin” seorang makmum yang dikabulkan Allah, maka “Aamiin”nya
itu berlaku untuk semua jamaah. Artinya doa yang ada di dalam surat Al Fatihah
didapatkan oleh semua jamaah yang hadir, meski diantara mereka ada “Aamiin”
yang belum dikabulkan Allah, tapi dengan “Aamin” satu orang makmum yang tidak
diketahui, ia pun juga mendapatkan pengabulan doa tersebut.
Oleh karena itu imam Ibnu Katsir mengatakan,sebagaimana
yang dikatakan oleh sebagian salafus shalih: Al Fatihah adalah inti dari Al Qur
an, dan inti dari Al Fatihah adalah
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين
Ayat ke enam
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami
jalan yang lurus,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ
ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ
فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ
عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ
{
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
}
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا
قَالَ
{
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا
قَالَ
{
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }
قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ
إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ
{
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
}
قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي
مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ
{
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ
عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
}
قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Dari Abu
Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
"Barangsiapa shalat tanpa membaca Ummul Qur'an, maka shalatnya tidak
sempurna, tidak sempurna, tidak sempurna.” Abu Hurairah di Tanya; ‘Bagaimana
bila kami berada di belakang imam?’ Dia menjawab; ‘Bacalah Al Fatihah dengan
suara lirih, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: “Allah berfirman: 'Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu
setengah-setengah, dan hambaku mendapatkan apa yang dia minta.
Apabila seorang
hamba membaca; 'Alhamdulillahi rabbil 'alamin.’
Allah menjawab;
‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’
(ketika)
seorang hamba membaca; ‘Arrahmaanir rahiim.’
Allah berfirman; ‘Hamba-Ku telah
menyanjung-Ku.’
(ketika) seorang hamba membaca; ‘Maaliki yaumid
diin.’
Allah
berfirman; ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’
(ketika)
seorang hamba membaca; ‘Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin.’
Allah
berfirman; ‘Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, sedangkan bagi hamba-Ku apa
yang di mintanya.’
(ketika) seorang hamba membaca; ‘Ihdinash
shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdluubi
'alaihim waladl dllaallliin.’
Allah
berfirman; ‘Inilah bagian dari hamba-Ku, dan baginya apa yang di minta."
(Riwayat Imam Muslim)
Setelah memuji Allah dengan pujian
yang indah, kemudian kita mengatakan ‘Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin.’,
maka Allah pun berfirman: ‘Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, sedangkan bagi
hamba-Ku apa yang di mintanya.’
Barulah kita meminta kepada Allah
atas apa yang kita butuhkan, dan yang paling kita butuhkan dari semua kebutuhan
kita adalah hidayah Allah Subahanahu wata’ala. Begitu juga adab dalam setiap
doa yang kita minta kepada Allah Subhanahu wata’ala, hendaknya dimulai dengan
pujian-pujian kepada Allah, dan bersholawat kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam.
Imam Ibnu Katsir mengatakan: Karena
ia lah (Allah) yang menetapkan kebutuhan hambanya, dan ia pula yang
memenuhinya. Dan dengan ini, Allah menunjukkan kepada kita, bahwa ia lah yang
maha sempurna. Dan terkadang doa bisa
juga dalam bentuk pengabaran tentang kondisi orang yang berdoa dan
kebutuhan-kebutuhan, sebagaimana doa Nabi Musa ‘Alaihissalam:
فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى
ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia
kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku
sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". QS. Al
Qashash: 24
Dan bisa juga dengan menyertai sifat-sifat Allah yang mulia, sebagaimana doa Nabi Yunus ‘Alahissalam:
Dan bisa juga dengan menyertai sifat-sifat Allah yang mulia, sebagaimana doa Nabi Yunus ‘Alahissalam:
لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى
كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
"Bahwa
tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk
orang-orang yang zalim". QS.
Al Anbiya’: 87. Dan bisa juga doa itu hanya berisikan pujian-pujian kepada Allah
Subhanahu wata’ala.
Imam Ibnul Qoyyim berkata di dalam kitabnya “Al Wabil Ash Shoyyib”: Dzikir lebih afdhal dari
pada doa, karena dzikir adalah pujian kepada Allah dengan sifat-sifat dan
nama-namanya yang mulia, sedangkan doa adalah permintaan seorang hamba kepada
Rabb-nya, sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ
وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ وَفَضْلُ
كَلَامِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ
Dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Rabb Azza wa Jalla berfirman; "Barangsiapa disibukkan oleh
Al Qur`an dan berdzikir kepadaku untuk memohon kepadaKu, maka Aku akan
memberikan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang Aku berikan kepada
orang-orang yang memohon, " dan kelebihan kalamullah (Al Qur`an) dari
seluruh kalam adalah seperti kelebihan Allah dari seluruh makhlukNya."
(Riwayat Imam At Tirmidzi, No. 2850). Maka dianjurkan bagi setiap muslim untuk
berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memulainya dengan memuji Allah Azza
wa jalla, kemudian ia meminta dari kebutuhan-kebutuhannya.
Dikisahkan di dalam hadits
yang diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam pernah mendengar seorang pemuda yang berdoa di dalam sholatnya dan
tidak mengucapkan pujian-pujian kepada Allah, dan tidak pula bersholawat kepada
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi:
“Orang ini telah tergesa-gesa”. Kemudian beliau memanggilnya dan berkata
kepadanya atau kepada yang lainnya: “Apabila diantara kalian berdoa, maka
mulailah dengan pujian-pujian kepada Allah, kemudian diikuti dengan bershalawat
kepada Nabi Shalallahu ‘alahi wasallam, kemudian barulah ia berdoa dengan doa
yang ia kehendaki”.
Faedah doa yang dimulai
dengan dzikir, pujian kepada Allah, dan sholawat kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam, diantaranya adalah menjadikan doa dikabulkan oleh Allah Azza
wa jalla. Sebagaimana yang dijelaskan imam Ibnul Qoyyim di dalam kitabnya “Al
Wabil Ash Shoyyib” : Doa yang dimulai dengan dzikir dan pujian kepada Allah
lebih afdhal dan lebih dekat dengan pengabulan Allah dari pada doa yang tidak
dimulai dengan dzikir, pujian, dan sholawat, dan apabila ditambah dengan
menceritakan kondisinya kepada Allah, menyebutkan kelemahan-kelemahannya kepada
Allah, dan menyampaikan kesusahan-kesusahannya kepada
Allah, dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya, keta’atannya kepada Allah, dan
amal-amal sholehnya, maka ini menjadikan doanya akan lebih dikabulkan Allah
Azza wa jalla.
Di dalam surat Al
Fatihah ini, betapa banyak faedah yang dapat kita petik darinya, diantaranya
adalah adab dalam berdoa yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Diawali
dengan pujian kepada Allah, kemudian berdoa kepada Allah dengan doa terbaik,
yaitu doa memohon hidayah kepada Allah,
yang juga diajarkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Adapun makna hidayah adalah
“Al Irsyad dan At Taufiq” yaitu
petunjuk, sebagaimana yang dikatakan oleh imam Ibnu katsir di dalam tafsirnya.
“Shiratol mustaqim” berkata imam Ibnu Jarir Ath Thabari: adalah
jalan yang lurus dan jelas yang tidak ada bengkoknya. Akan tetapi yang dimaksud
dengan jalan yang lurus atau jalan yang jelas yang tidak ada bengkoknya itu,
para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan maksud jalan yang lurus itu
adalah Al Qur an, ada juga yang mengatakan maksudnya adalah islam, dan kebanyakan
mereka mengatakan bahwa maknanya adalah islam. Dan imam Ibnu katsir mengatakan
di dalam tafsrinya, bahwa semua maksud maknanya sama.
Adapun hidayah Allah
kepada hambanya ada empat bentuk, berkata Syaikh Muhammad As Sayyid Jibril di
dalam kitabnya “Ma’alimul Iman Fii Tafsiri Ummil Qur an” dari imam Ar Raghib Al
Ashfahani di dalam kitabnya “Al Mufradat Fii Gharibil Qur an”:
1. Hidayah yang bersifat umum, yang diberikan kepada setiap orang yang
mukallaf, dalam bentuk akal, pemahaman, dan pengatahuan, yang dengannya ia dapat
mengetahui segala sesuatu sesuai takarannya, dengan kemampuan yang dimilikinya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
قَالَ رَبُّنَا ٱلَّذِىٓ أَعْطَىٰ كُلَّ شَىْءٍ
خَلْقَهُۥ ثُمَّ هَدَى
Musa berkata:
"Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu
bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. QS. Thaha: 50
2. Hidayah yang menjadikan manusia berbuat untuk menyampaikan
apa yang disampaikan oleh para Nabi dan Al Qur an. Allah Subhanahu wata’ala
berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ
بِأَمْرِنَا
Dan Kami
jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan
perintah Kami. QS. As Sajadah: 24
3.
Hidayah yang ketiga adalah Taufiq yang
diberikan Allah secara khusus kepada hambanya yang sudah mendapatkan hidayah.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى
Dan orang-orang
yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka. QS. Muhammad: 17
4.
Hidayah di akhirat untuk
masuk ke dalam surga. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا
Dan mereka
berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga)
ini. QS. Al ‘Araf: 43
Berkata Sayyid Quthub di dalam
tafsirnya “Fi Zhilalil Qur an” dengan perkataan yang indah: “Ihdinasshirotholmustaqim”
kita menyadari untuk mengetahui jalan yang lurus (yaitu Islam atau Al Qur
an), kemudian istiqomah untuk selalu berada di atasnya setelah kita
mengetahuinya. Karena ma’rifah atau pengetahuin kita dengan jalan yang lurus
tersebut, dan keistiqomahan kita untuk tetap berada di atasnya, adalah buah
dari pada hidayah Allah, pertolongannya, dan rahmatnya. Dan ini adalah sesuatu
yang penting dan utama, yang diminta oleh seorang mukmin kepada Allah, karena
hidayah kepada jalan yang lurus adalah garansi kebahagiaan di dunia dan di
akhirat.
Maka ketika kita memohon kepada
Allah dalam setiap sholat kita “Ihdinasshirotholmustaqim”,
bermakna: tunjukkan kami dan tuntunlah kami ya Allah ke jalan mu yang
benar, dan agama mu yang lurus, dan istiqomahkan kami dalam islam yang engkau
utus dengannya para Nabi dan Rasul mu, dan dengannya engkau utus pula Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, dan
jadikan kami orang-orang yang berjalan di atas jalan orang-orang yang selalu
mendekatkan diri kepada mu. Dikatakan
oleh Syaikh Ali Ash Shobuni di dalam kitab “As Shofwatu At Tafasir” .
Ayat ke tujuh
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
(yaitu) Jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka
yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Sebelumnya kita mengatakan “iyyaka na’budu waiyyaka nastain” hanya engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan. Kemudian kita menyatakan permohonan yang paling kita butuhkan “ihdinasshirotholmustaqim” tunjukkan kami kepada jalan yang lurus yaitu islam. Dan jalan yang lurus itu “shiratholladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhu bi’alahim waladhollin” jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Sebelumnya kita mengatakan “iyyaka na’budu waiyyaka nastain” hanya engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan. Kemudian kita menyatakan permohonan yang paling kita butuhkan “ihdinasshirotholmustaqim” tunjukkan kami kepada jalan yang lurus yaitu islam. Dan jalan yang lurus itu “shiratholladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhu bi’alahim waladhollin” jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Siapakah orang-orang yang
telah diberikan nikmat oleh Allah yang disebutkannya pada ayat diatas? Maka imam Ibnu Katsir mengatakan: mereka
adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah Azza wa jalla di dalam surat An
Nisa ayat 69-70:
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ
مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ
وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا
Dan barangsiapa
yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka
itulah teman yang sebaik-baiknya.
ذَٰلِكَ ٱلْفَضْلُ مِنَ ٱللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ
بِٱللَّهِ عَلِيمًا
Yang demikian
itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.
Mereka yang mendapatkan nikmat
tersebut dari Allah, adalah mereka ahli hidayah, istiqomah, ta’at kepada Allah
dan Rasul-nya, menjalankan perintah-nya dan meninggalkan larangan-nya. Ibnu
Abbas mengatakan: Jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada
mereka, dengan keta’atan dan ibadah kepada mu.
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. Imam Ibnu Katsir berkata: “mereka
yang dimurkai” adalah orang-orang yang tahu kebenaran tetapi mereka berpaling
darinya, “mereka yang sesat” adalah orang-orang kehilangan ilmunya, maka mereka
pun kehilangan arah dalam kesesatan yang tidak mendapatkan hidayah kepada
kebenaran.
Imam Ibnu Katsir melanjutkan:
Sesungguhnya kelompok orang yang beriman menggabungkan antara ilmu dan amal,
sedangkan yahudi mereka berilmu tapi mereka mengingkari pengamalannya, dan
nasrani mereka tidak berilmu dan tidak pula mengetahui kebenaran, oleh karena
itu orang-orang yang dimarahi itu adalah yahudi, dan orang-orang yang sesat
adalah nasrani, karena orang yang tahu tapi ia meninggalkannya, maka berhak
untuk dimurkai, berbeda dengan sebaliknya bagi orang-orang yang tidak tahu
(maka pantas bagi mereka untuk tersesat). Adapun orang nasrani, apabila ingin
melakukan sesuatu, akan tetapi mereka tidak memiliki petunjuk untuk sampai
kepadanya, karena mereka melakukan tanpa dasar ilmu yang benar, yaitu mengikuti
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersamanyalah kebenaran, sehingga
mereka pun tersesat. Dan semua orang yahudi dan nasrani itu tersesat dan
dimurkai, akan tetapi sifat yang lebih khusus untuk yahudi adalah dimurkai, sebagaimana
firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 60 yang menceritakan tentang
orang yahudi, maka Allah katakan:
مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ
yaitu
orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah,
Sedangka sifat yang lebih
khusus untuk nasrani adalah tersesat. Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu
‘Alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi, juga diriwayakan oleh
imam Ahmad:
إِنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ
الْيَهُودُ وَ الضَّالِّينَ النَّصَارَي
"Sesungguhnya yang dimaksud mereka yang dimurkai adalah kaum Yahudi,
dan yang dimaksud mereka yang tersesat adalah kaum Nasrani."
Berkata Syaikh Ali ‘Ash
Shobuni, sebagaimana yang dikatakan Al Imam Fakhruddin Ar Razi: bahwa makna “ghairil
maghdhu bi’alahim waladhollin” juga bermakna umum yang mencakup semuanya
dari yahudi, nasrani, dan semua orang-orang yang menyimpang dari agama Allah,
dan melenceng dari jalan yang lurus, sebagaimana imam Ar Razi juga memaknai “ghairil
maghdhu bi’alahim waladhollin” (selain bermakna yahudi dan nasrani) adalah
orang-orang kafir dan orang-orang munafik.
Hal ini senada juga dengan
yang dikatakan oleh imam Ibnu Katsir diatas, bahwa yahudi dan nasrani mereka
sama-sama dimurkai dan sesat, hanya saja yang ini lebih khusus dengan yang itu dan
yang itu lebih khusus dengan yang ini, begitu juga dengan orang yang mengikuti
jalan-jalan mereka, baik dari kalangan kafir atau munafik, mereka pantas untuk
dimurkai dan sesat, hanya saja mereka memiliki sifat yang lebih khusus dan lebih
pantas atas penyimpangan mereka, dan berlaku juga bagi setiap orang yang
menyimpang dari agama Allah, dan melenceng dari syariat yang lurus, karena
tidak lain dan tidak bukan mereka telah mengikuti jalan-jalan yahudi dan
nasrani, dan jalan-jalan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, sehingga
mereka pantas dimurkai oleh Allah, dan tersesat dari jalan yang lurus, apabila
tidak segera bertaubat kepada Allah, dan kembali ke jalan yang lurus.
Ketika kita mengatakan “shiratholladzina
an’amta ‘alaihim ghairil maghdhu bi’alahim waladhollin”, Syaikh Ali Shobuni
mengatakan: yaitu jalan yang dikaruniai dengan kebaikan dan nikmat, yang
diperoleh oleh para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid,
dan orang-orang yang sholeh, dan mereka itu lah teman sebaik-baiknya. Dan
janganlah engkau jadikan kami ya Allah termasuk ke dalam golongan musuh-musuh
mu, yang melenceng dari jalan yang lurus, yang berjalan di atas jalan yang
menyimpang, yaitu yahudi yang dimurkai, dan nasrani yang tersesat, yang
tersesat dari syariat mu yang suci, maka bagi mereka kemurkaan dan laknat yang
kekal. Allahumma ‘Aamiin.
Adapun “Aamiin” adalah
kalimat doa, dan bukan bagian dari Al Qur an, karena tidak ada dituliskan kata
tersebut di dalam Al Qur an, dan maknanya adalah: kabulkanlah doa kami ya Rabb.
Sebagaimana yang dikatakan imam Al Alusi di dalam kitabnya Ruhul Ma’ani: Disunnahkan
setelah mengakhiri bacaan untuk mengucapkan “Aamiin”, seperti yang dikisahkan
di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam bahwa malaikat Jibril, ketika
Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam membacakan kepadanya surat Al Fatihah, hingga
sampai pada “Waladdholliin”, maka Jibril mengatakan: katakanlah “Aamiin” , maka
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamu pun mengucapkan “Aamiin”.
Karena “Aamiin” bagian
yang penting, kita meng- aminkan dan mengharapkan Allah mengabulkan doa kita
yang terdapat di dalam surat Al Fatihah, yaitu memohon hidayahnya, setelah kita
memujinya dengan pujian yang sempurna, maka diakhirnya kita tutup dengan
“Aamin” ya Allah kabulkan doa kami.
Inilah surat mulia diantara
semua surat mulia yang ada di dalam Al Qur an, yang dipilih Allah Subhanahu
wata’ala untuk dibaca berulang-ulang setiap kali sholat, bahkan tidak sah
sholat apabila tidak membaca Al Fatihah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wasallam bersabda:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Dari 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al
Fatihah)." (Riwayat Imam Al Bukhori, No. 714)
Sayyid Quthub mengatakan: Terungkap
rahasia dari rahasia-rahasia dipilihnya surat ini untuk diulang-ulang minimal
17 kali sehari semalam, Maa Syaa Allah (atas kehendak Allah) Allah menjawab
setiap pujian dan doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Allah Ta’ala.
Sebagaimana yang dikatakan dalam hadits yang sudah disampaikan di awal tadabbur
ayat ke enam, bahwa Allah Subhanahu wata’ala menjawab setiap ayat yang kita
baca pada surat Al Fatihah, maka apabila kita membaca surat Al Fatihah 17 kali
dalam sehari, maka disetiap ayatnya
Allah merespon setiap bacaan yang kita lantunkan, dan mengabulkan doa yang kita
panjatkan.
Oleh karena itu imam Hasan
Al Banna menasehati: Hendaklah untuk sungguh-sungguh membacanya (surat Al
Fatihah) baik dalam sholat ataupun diluar sholat dengan lembut dan pelan,
dengan penuh kekhusyuan dan ketundukan, dengan memaknai setiap pesan yang
disampai oleh ayat-ayatnya, dengan menunaikan hak-hak tajwidnya dan hukumnya, memahami
makna lafaz-lafaznya, maka dengan begitu kita bisa memahaminya, dan dapat
merangsang turunya air mata dari tempatnya, dan tidak ada yang lebih bermanfaat
untuk hati dari tilawah dengan metadabburinya dengan khusyu’.
Wallahu ‘alam
Alhamdulillah, dengan rahmat dan
taufiq dari Allah, telah dituliskan tadabbur surat Al Fatihah, di bulan Al Qur
an, bulan Ramadhan, yang kami sadari penuh dengan kekurangan, sesuai dengan
kurangnya ilmu yang kami miliki. Semoga tadabbur surat Al Fatihah ini
bermanfaat bagi setiap yang membacanya, dapat meningkatkan iman kepada Allah,
dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang kami harapkan
selain balasan dari Allah, dengan kesetiaan kami untuk selalu menjadi khadim Al
Qur an, Ilmu, dan Sunnah, semoga Allah istiqomahkan dan Allah kokohkan. Karena tiada
keindahan di dunia ini, selain dengan menyibukkan diri sebagai khadim Al Qur
an, Ilmu, dan Sunnah.
أستغفر الله لي ولكم
جميعا...
Sumber:
·
Kitab
Tafsir Ibnu Katsir
· Kitab Shofwatu At Tafasir, Syaikh Ali Ash Shobuni
· Kitab Rowai’ul Bayan, Syaikh Ali Ash Shobuni
· Kitab Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, Imam An
Nawawi
· Kitab Tafsir Fii Zhilalil Qur an, Sayyid Quthub
· Kitab Ma’alimul Iman Fii Tafsir Ummil Qur an,
Syaikh Muhammad As Sayyid Jibril
· Kitab Al Wabil Al Shayyib, Imam Ibnul Qoyyim Al
Jauziyah
MARKAZ TAHFIDZ DAN BAHASA ARAB AL HANIFAH

Komentar
Posting Komentar