BAGAIMANA MENJADIKAN ANAK HAFIZ QUR AN




BAGAIMANA MENJADIKAN ANAK HAFIZ QUR AN

Syaikh Ahmad Al Kamali

            Oleh karena itu selalu saya katakan kepada orang tua yang menginginkan anaknya memiliki kedudukan yang mulia, tidaklah merugikanmu apabila engkau berbuat baik dengannya pada masa kecilnya, yang saya maksud dengan berbuat baik padanya adalah dengan mewajibkannya menghafal Quran, dan engkau mewajibkannya untuk menghafal sesuatu yang bermanfaat baginya ketika dia besar nanti, dan apabila engkau melihat pipinya memerah, dan apabila engkau melihat matanya lesu, dan apabila dia menangis dengan tangisan yang tidak bersuara, engkau melihat air matanya mengalir, akan tetapi tidak ada suara, dan disamping itu janganlah engkau merasa kasihan kepadanya karena rasa kasihan mu kepadanya adalah dengan membiarkannya berada di tempat menghafalnnya.

            Berkata Abul ‘Ala: dia telah membuatku menjadi keras, dan barangsiapa yang berlemah lembut,  maka dia terkadang menjadi keras terhadap orang yang berlemah lembut kepadanya. Sikap kerasmu kepadanya, itu hanya yang tampaknya saja, akan tetapi itu adalah kasih sayang pada kenyataannya.

             Saya tidak tahu apakah saya sudah ceritakan kepada kalian satu kisah atau belum saya ceritakan, tentang seorang pemuda yang memiliki seorang anak perempuan, anak pertamanya, dia memiliki anak perempuan dan dia menginginkan anak perempuannya itu menghafal Alquran, dia adalah orang miskin, apabila pulang dari sekolah ayahnya pergi menjemputnya, membawanya dan pergi bersamanya ke tempat menghafal Alquran, dan dia tidak mengerti kenapa ayahnya memperlakukannya dengan perlakuan yang menyiksanya, sedangkan semua teman-temannya apabila pulang dari sekolah mereka pergi, bersenang-senang, dan bermain, sedangkan dia ayahnya membawanya ke tempat menghafal Quran, menghafal Quran dan mendengarkannya. Maka pada suatu kesempatan dia mengatakan kepada ayahnya: wahai ayahku kenapa engkau memperlakukan aku seperti ini? apakah aku ini anakmu? apakah engkau tidak mencintaiku?  kenapa engkau menyiksaku dengan azab yang seperti ini, sedangkan si Fulan temanku dia bisa pergi dan ayahnya tidak memperlakukan sebagaimana engkau memperlakukan aku. Maka itu menyadarinya atas apa yang disampaikan oleh anaknya kepadanya, itu menyadarinya, tapi Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan taufik kepadanya untuk menahan di wajahnya dari terpaan angin yang diberikan, terpaan angin perasaan. Maka anak itu tetap berangsur-ansur untuk tetap menghafal Quran sampai ia mengkhantamkannya. 

            Pada suatu kesempatan ketika dia sudah naik ke jenjang SMA, dia bersama teman-temannya yang sama dengannya sejak dia kecil, maka pada suatu kesempatan ayahnya mengatakan kepadanya: wahai anakku, adakah engkau masih ingat ketika engkau masih kecil, dan kau menangis, dan engkau menolak, dan engkau mengatakan kenapa engkau memperlakukan aku begini dan begini. Bagaimana pendapatmu apabila ketika itu aku menuruti keinginanmu? adakah itu akan menjadi kebaikan untukmu? atau sekarang dengan Alquran yang sudah ada di dalam dadamu dan itu yang terbaik untukmu?. Maka dia mengatakan: semoga Allah memberikan balasan kepadamu karena telah menjadi orang tua yang baik, sebaik-baik orang tua adalah engkau, dan sekarang bagaimana aku membalasmu?, bagaimana aku membalasmu?, apa yang bisa aku perbuat untukmu?, dan apa yang telah engkau lakukan kepadaku adalah sebab Allah menjadikan aku penghafal Quran dengan menanamkan Al Qur an di dalam dadaku. Lalu  dia mengatakan kepadanya: teman-temanmu itu sama sepertimu dari segi umur, sekolah, dan lain-lainnya. Akan tetapi mereka tidak ada Alquran bersama mereka, sedangkan engkau bersamamu Alquran, adakah engkau masih ingat rasa lelahmu, adakah engkau masih ingat sedikit dari rasa lelah ini, dari kesulitan, dari kesusahan, engkau tidak mengingat sedikitpun dari perasaan itu, tidak ada yang bersamamu sekarang kecuali fadhilah yang mulia ini, yang engkau mengisinya ke dalam dadamu. Dan berapa banyak anak-anak yang justru kasih sayang orang tuanya memudaratkan mereka, karena mereka tidak peduli dengan anak-anak mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUJJATUL ISLAM AL IMAM AL GHAZALI

TADABBUR SURAT AL FATIHAH

Nasehat para ulama di tengah badai Corona