MAQASHID MUSIBAH
MAQASHID MUSIBAH
(Maksud-maksud musibah)
Setiap
penyakit yang diturunkan Allah subhanahu wata’la, maka Allah akan turunkan
pula obatnya, sebagaimana hadits nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:
عن أبي هريرة - رضي الله عنه
- أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال
((ما أنزل الله داء إلا أنزل له شفاء (( رواه البخاري.
“Tidaklah Allah turunkan suatu
penyakit kecuali Allah turunkan pula penyembuhnya”
Wabah
yang menimpa umat manusia di seluruh penjuru dunia sekarang ini adalah makhluk
Allah Subhanahu Wata’la, tidak ada satupun di alam semesta ini kecuali
Allah – lah yang menciptakannya, karena dialah
tuhan dan tiada tuhan selainnya, dan dialah sang maha pencipta. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman:
الله خالق كل شيء وهو على كل شيء وكيل
“Allah pencipta segala sesuatu
dan dia maha pemelihara atas segala sesuatu” QS. Az-Zumar:62
Allah
pulalah yang menciptakan virus ini, maka Allah pulalah nanti yang akan
menciptakan obatnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi
Wasallam pada hadits diatas. Tapi kita tidak boleh lupa, memanglah Allah
yang maha agung yang menciptakan mahkluk ini, tapi wabah dan bencana ini
terjadi karena ada sebabnya. Dan sebabnya itulah yang menjadikan virus wabah
ini diturunkah oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
من يعمل سوءا
يجز به
“Barang
siapa yang melakukan keburukan, niscaya akan dibalas sesuai dengan keburukan
itu” QS. An-Nisa: 123
وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم
“Dan musibah apapun yang
menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri” QS. Asy-Syura: 30
ظهر الفساد في
البر والبحر بما كسبت أيدى الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون
“Telah
tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” QS. Ar-Rum: 41
Dari ayat-ayat yang mulia ini, kita
tahu bahwasanya sebab terjadi wabah dan musibah ini adalah perbuatan manusia. Perbuatan
manusialah yang menjadi sebab turunya wabah dan musibah ini, bukan serta-merta
Allah Subhanahu Wata’ala ingin menurun wabah, musibah, dan bencana untuk
menyengsarakan manusia, karena Allah sang maha suci dari sifat yang buruk dan
Allah tidak akan selamanya mendzolimi siapapun. Jadi wabah dan musibah ini
bukan bentuk pendzoliman Allah kepada manusia, tapi dia adalah bentuk dari
pendzoliman manusia itu sendiri, sehingga mereka merasakan akibat dari sebab
perbuatan dzolim mereka.
ولا يظلم ربك أحدا
“Dan tuhan mu tidak medzolimi
seorang pun” QS. Al-Kahfi: 49
Perbuatan
manusia yang mengundang musibah terbagia dua. Yang pertama, perbuatan yang
berkaitan langsung dengan musibah yang terjadi seperti penebangan pohon secara
liar, maka akan menyebabkan musibah banjir. Yang ke dua, perbuatan yang tidak
berkaitan langsung dengan musibah yang
terjadi, tetapi perbuatan ini merupakan perbuatan yang dibenci oleh Allah Subhanahu
Wata’la bahkan dicap sebagai suatu kemaksiatan dan pelakunya adalah ahli
maksiat, seperti zina, minum khomar, riba, mencuri, korupsi, memakan harta anak
yatim dll.
Secara
zhohir perbuatan yang ke dua ini tidak ada kaitanya bahwa apabila manusia
melakukan hal tersebut bisa menyebabkan terjadinya musibah, berbeda dengan
perbuatan yang pertama. Tetapi diantara sunnatullah bagi hambanya adalah
barangsiapa yang melakukan keburukan maka akan dibalas oleh Allah Subhanahu
Wata’ala, sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Ramadhan Al Buthi di
dalam Min Sunanillahi Fii Ibadihi. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
من يعمل سوءا
يجز به
“Barang siapa yang melakukan
keburukan, niscaya akan dibalas sesuai dengan keburukan itu” QS. An-Nisa: 123
Maka
melalui penjelasan ini kita mengetahui bahwa maksud musibah yang pertama adalah
agar kita tahu dan sadar bahwa musibah-musibah yang terjadi disebabkan oleh
perbuatan manusia.
Setelah
kita mengakui bahwa musibah ini terjadi disebabkan oleh perbuatan manusia, maka
tugas kita selanjutnya adalah banyak bertaubat dan kembali kepada Allah Azza
Wa Jalla. Oleh karena
itu maksud musibah ke dua adalah agar kita sadar, bertaubat, dan kembali
kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
ظهر الفساد في
البر والبحر بما كسبت أيدى الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون
“Telah
tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” QS. Ar-Rum: 41
وتوبوا إلى الله
جميعا أيه المؤمنون لعلكم تفلحون
“Dan bertaubatlah kamu semua
kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung” QS. An-Nur:
31
توبوا إلى الله توبة
نصوحا
“Bertaubatlah
kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat” QS. At-Tahrim: 8
Syaikh Ramadhan Al Buthi berkata
dalam kitab Min sunanillah Fii Ibadihi[1]
bahwa musibah atau bencana yang terjadi di dunia adalah sesuatu yang berkaitan
dengan jasmani. Oleh karena itu setiap manusia yang ditimpa musibah, baik
berupa sakit, bencana alam, bahkan batuk dan tertusuk duri sekalipun, baginya
untuk berikhtiar untuk menjaga dirinya atau mengobati jasmaninya, karena itu
juga merupakan bagian dari perintah agama, bahkan diantara maksud-maksud
syariah مقاصد الشريعة adalah حفظ النفس
(menjaga diri) sebagaimana yang sudah dijelaskan panjang lebar oleh para ulama-ulama
kita dalam hal ini diantara Al Imam Asy Syathibi, Al Imam Al Ghazali, Al Imam
Al Haramain, di zaman modern diantara Syaik Ibnu ‘Asyur, Syaikh Yusuf Al
Qordhowi, Syaikh Ahmad Ar Roisuny, dll. Disisi lain selain kita berikhtiar, ada
hal yang paling penting juga yang harus dilakukan seorang hamba apabila ditimpa
musibah adalah bertaubat kepada Allah Azza Wa Jalla.
Di dalam hadits yang mulia yang diriwayatkan oleh imam
Muslim nomor hadits: 2574
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: لما
نزلت ( من يعمل سوءا يجز به) بلغت من المسلمين مبلغا شديدا فقال رسول الله صلى
الله عليه وسلم: قاربوا وسددوا ففي كل ما يصاب به المسلم كفارة حتى النكبة ينكبها
أو الشوكة يشاكها.
“Dari Abu Hurairoh radhiyallahu
‘anhu berkata: ketika turun ayat al qu an yang berbunyi (barangsiapa
yang berbuat keburukan, niscaya akan dibalas dengan keburukan), maka kaum
muslimin pun merasa prihatin. Kemudian Rasulullah Shollallahu ‘Alahi
Wasallam bersabda: janganlah kalian berlebihan, tempuhlah kejujuran dan perbaikilah
dirimu. Sesungguhnya setiap musibah yang menimpa seorang muslim itu adalah
sebagai penghapus dosa, termasuk pula jika ia terantuk batu ataupun tertusuk
duri”.
Di
dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh imam Ahmad nomor hadits: 65
عن أبي بكر بن
أبي زهير قال أخبرت أن أبا بكر رضي الله عنه قال: يا رسول الله كيف الصلاح بعد هذه
الأية ( ليس بأمانيكم ولا أماني أهل الكتاب من يعمل سوءا يجز به ) فكل سوء عملنا
جزينا به فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم غفر الله لك يا أبا بكر ألست تمرض
ألست تنصب ألست تحزن ألست تصيبك اللأواء قال بلى قال فهو ما تجزون به.
“Dari Abu
Bakar bin Abu Zuhair dia berkata: aku telah mendapat berita bahwa Abu Bakar berkata: wahai rasulullah bagaimana akan ada kebaikan
setelah ayat ini: (Bukanlah angan-anganmu dan bukan pula angan-angan ahli kitab.
Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan niscaya dia akan dibalas sesuai
kejahatan itu), apakah setiap kejahatan yang kita lakukan akan dibalas? Maka Rasulullah
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: semoga Allah mengampuni mu wahai Abu
Bakar, bukan kah kamu mengalami sakit, letih, sedih, ditimpa cobaan? Abu Bakar
menjawab: ya. Kemudian beliau bersabda: maka itu semua adalah balasan bagi
kalian.
Syaikh
Ramadhan Al Buthi menjelaskan dua hadits ini di dalam kitabnya Min
Sunanillah Fii Ibadihi[2].
فدل ذلك على من سنن الله تعالى في
عباده أن يعاقبهم على كل سوء يصدر باختيارهم وطواعية منهم, ثم إنه قد يكون في دار
الدنيا وقد يكون يوم القيامة. وما يكون منه في الدنيا هو المصائب التي تصاب بها
الجسم أو النفس, مما ذكر رسول الله أمثلة له.
وإنما يجعل الله عقاب ذلك في الدنيا
لمن شاء أن يرحمهم, وأن يحشروا إليه يوم القيامة طاهرين مبرئين من دنس الآثام
والسيئات. هو مبعث الطمأنينة التي أدخلها رسول الله في نفس أبي بكر وأصحابه, عندما
ساقهم الفزع من الأية الشكوى أليه.
“Maka itu menunjukkan bahwa diantara
sunatullah terhadap hambanya adalah Allah memberikan balasan bagi setiap
keburukan yang mereka lakukan, kemudian balasan tersebut bisa terjadi di dunia
dan bisa pula ditangguhkan sampai pada hari pembalasan nanti. Sedangkan balasan
yang diturunkan ketika masih di dunia adalah musibah yang menimpa jasmani atau
diri seseorang, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Shollahu ‘Alaihi
Wasallam pada hadits diatas. Dan Allah
menurunkan balasan bagi pelaku keburukan tersebut ketika di dunia kepada siapa
saja yang dia kehendaki untuk dia rahmati, sehingga ketika mereka dikumpulkan
di hari kiamat nanti, mereka hadir dan keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa. Itulah
yang disampaikan Rasulullah kepada Abu Bakar dan para sahabat ketika
mereka mengadu akan kegelisahan mereka ketika mendengar ayat al qur an yang
diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala”. Berikutlah penjelasan syaikh
Ramadhan Al Buthi.
Dari pemaparan syaikh Ramadhan Al
Buthi diatas kita dapat mengambil pelajaran bahwa maksud musibah yang ketiga
adalah bahwa musibah merupakan bentuk rahmat Allah bagi hamba-hambanya, dengannya
Allah gugurkan dosa hamba-hambanya sehingga kita hadir nanti dihadapan Allah di
hari kiamat nanti dalam keadaan suci dan bersih dari dosa. Andaikan rahmat
Allah ini yang jarang sekali orang melihat ini sebagai rahmat, ditangguhkan
Allah sampai kiamat, Allah biarkan kita terjebak dalam kubangan maksiat,
bisakah kita membayangkan betapa lebih dahsyatnya lagi iqob yang akan
diberlakukan kepada kita, dan kita berlindung kepada Allah dari itu semua.
Sebagai penutup, ayat ini:
من يعمل سوءا
يجز به
“Barang siapa yang melakukan
keburukan, niscaya akan dibalas sesuai dengan keburukan itu” QS. An-Nisa: 123
Datang dalam
keadaan umum, kata-kata من menunjukan kepada siapa saja
yang berbuat keburukan atau kejelekan, maka syaikh Ramadhan
Al buthi juga menjelaskan bahwa ayat
yang umum ini dikhususkan oleh ayat yang lain yang berbunyi:
إلا من تاب ءامن
وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات وكان الله غفورا رحيما
“Kecuali
orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan, maka
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah maha pengampun, maha
penyayang”. QS. Al-Furqon: 70
Wallahu ‘Ala
wa ‘Alam
Oleh:
Khodim Markaz Al Hanifah
Ikuti:
Ig
@markaz_alhanifah
Fb Markaz Al
Hanifah
Yt Markaz Al
Hanifah

Komentar
Posting Komentar