HAKIKAT CINTA ALLAH 'AZZA WA JALLA
Allah
subhanahu wata’ala sangat mencintai hambanya, melebihi cinta hambanya
terhadap dirinya sendiri. Tetapi terkadang hambanya tak sadar dan tak merasakan
cinta rabb-nya, padahal seluruh isi kehidupannya adalah curahan dari pada cinta
Allah subhanahu wata’ala kepadanya.
Berangkat
dari defenisi cinta, apa itu cinta? Syaik
Ramadhan Al Buthi menulis di dalam kitabnya yang berjudul “Al Huub Fill Qur
an” beliau mengatakan bahwa cinta adalah ketergantungan terhadap sesuatu
yang mendatangkan ketenangan apabila berada di dekatnya dan merasa takut untuk
jauh dari padanya.[1]
Inilah cinta, apabila kita berada di dekatnya dan takut jauh dari padanya maka
itulah cinta, maka apabila seseorang merasa senang, tenang, bahagia dalam keta’atan
kepada Allah subhanahu wata’ala dan takut jauh darinya, maka cintanya
kepada Allah subhanahu wata’ala sudah
mekar di dalam hatinya, namun jika hal itu belum mampu kita rasakan di dalam
hati kita, maka mestilah cinta kita kepada sang maha cinta dipertanyakan. Dan cinta
adalah perasaan yang tak bisa dibuat-buat, perasaan cinta akan tampak dan
teraplikasi dalam kehidupan manusia.
Benarkah
Allah subhanahu wata’ala mencinta
hambanya?
Apabila
ada yang bertanya benarkah Allah subhanahu wata’ala mencintai
hambanya?
Benarkah
Allah itu maha mencintai?
Apa
dalil jika memang Allah subhanahu wata’ala itu mencintai
hambanya?
Jika
ada yang bertanya dengan pertanyaan yang demikian, maka jawabanya adalah dalil Allah
subahanhu wata’ala itu mencintai hambanya adalah seluruh ayat di dalam
al qur anul karim adalah dalil bahwa Allah subhanahu wata’ala mencintai
hambanya dan maha mencintai. Seluruh hadits nabi shollallhu ‘alaihi wasallam
adalah dalil bahwasanya Allah subhanahu wata’ala mencintai hambanya dan
maha mencintai, dan seluruh kejadian yang terjadi di dalam kehidupan manusia
baik disukai ataupun tak disukai, baik ataupun buruk adalah dalil aqli
bahwasanya Allah subhhanahu wata’ala sangat mencintai hambanya-hambanya
dan maha mencintai.
Allah
subhanahu wata’ala berfirman:
۞
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ
خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam,
Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al Isra:70)
Bukankah
permuliaan Allah kepada manusia bentuk cinta Allah subhanahu wata’ala?,
mustahil kita memuliakan sesuatu yang tak kita cintai, mustahil kita memuliakan
sesuatu yang kita benci, maka permuliaan Allah kepada manusia merupakan salah
satu bentuk cinta Allah kepada manusia.
Pada
ayat diatas juga Allah tidak hanya mengatakan bahwasanya dia memuliakan manusia,
tapi setelah itu Allah katankan “Kami angkut mereka di daratan dan di lautan,
Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. Allah
ciptakan bumi sebagai tempat tinggal bagi manusia, Allah ciptakan laut sebagai
sumber untuk mencari rezeki, Allah ciptakan tanah untuk manusia bercocok tanam,
Allah ciptakan pohon yang menghasilkan oksigen sehingga manusia bisa bernafas, Allah
ciptakan hewan-hewan yang bisa dimakan agar bisa dinikmati dagingnya, Allah
ciptakan matahari agar manusia dapat melihat, Allah ciptakan siang untuk
manusia beraktifitas, Allah ciptakan malam agar manusia dapa beristirahat, Allah
ciptakan dan Allah sediakan semua yang ada di langit dan di bumi tidak lain dan
tidak bukan adalah untuk melengkapi kehidupan manusia. Bukankah ini merupakan
bentuk cinta dan kasih sayang Allah yang sangat besar?
Allah
subhanahu wata’ala berfirman:
اللَّهُ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ
فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan
menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan
itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan
bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan
Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai”. (QS. Ibrahim:32)
Di ayat yang lain Allah subhanahu wata’ala
berfirman:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا
إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para
malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali
Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang
kafir”. (QS. Al Baqoroh:34)
Semua
ayat di dalam al qur an merupakan dalil cinta Allah kepada hambanya,
diantaranya firman Allah subhanahu wata’ala pada ayat diatas yang
menunjuk bukti cinta Allah kepada hambanya, sehingga Allah pun memerintahkan
para malaikat untuk bersujud kepada nabi Adam ‘alaihis salam yang
merupakan sujud untuk memuliakan bukan sujud ibadah karena yang layak untuk
diibadati hanyalah Allah subhanahu wata’ala. Malaikat adalah makhluk Allah
yang mulia, bagaimana malaikat tidak mulia, aktivitasnya hanya beribadah kepada
Allah subhanahu wata’ala.
Tapi
karena cintanya Allah kepada manusia, Allah perintahkan para malaikat untuk bersujud kepada nabi
Adam ‘alaihis
salam. Malaikat ta’at dan beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala
karena memang sudah di setting sejak penciptaanya untuk beribadah, tetapi
manusia mereka ta’at dan beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala karena
usaha mereka, karena ikhtiar mereka, karena kesungguhan mereka, melawan hawa
nafsu yang selalu mengajak kepada kemaksiatan, melawan syaithan yang selalu
menggoda untuk ingkar kepada Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu
kata imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, manusia lebih mulia dari pada malaikat
karena keta’atannya kepada Allah subhanahu wata’ala memerlukan usaha dan
ikhtiar yang kuat.
Diantara
bentuk dan bukti cinta allah yang sangat besar tapi jarang sekali kita sadari
apalagi kita syukuri adalah Allah subhanahu wata’ala tidak hanya
menciptakan bumi sebagai tempat tinggal bagi manusia, Allah subhanahu wata’ala
tidak hanya menciptakan langit sebagaimana atap yang tak bertiang, tidak hanya
hanya menciptakan hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang semua disediakan untuk
manusia yang tak mampu kita sebutkan satu persatu. Yang lebih besar, yang lebih
berharga, dan lebih mulia dari itu semua adalah Allah turunkan syariat islam
kepada ummat manusia, sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia dalam menjalani
kehidupan di dunia. Dari mana kita tahu cara menjalani kehidupan di dunia ini
kalau bukan dari ajaran islam? Bisakah kita membayangkan bagaimana kehidupan di
dunia ini jika tidak ditunjukkan cara dalam menjalaninya?. Maka kita dapati
kehidupan orang-orang yang tidak menjalankan syariat islam, kehidupan mereka
seolah-seolah seperti tanpa aturan, tanpa pedoman, brutal, tidak tahu yang mana
yang baik dan yang mana yang buruk, yang mana yang boleh dan yang tidak boleh,
yang mana yang halal dan yang mana yang haram, yang mana yang memberikan
kemashlahatan dan yang mana yang memudharatkan, sungguh mereka tidak akan tahu
karena mereka tidak punya panduan dan pedoman. Tetapi kehidupan orang-orang
islam, kehidupan mereka indah karena mereka tahu aturan main dalam menjalani
kehidupan di dunia. Maka bukankah itu bentuk cinta Allah yang sangat besar
sekali?. Tapi sedikit sekali dan jarang sekali manusia yang menyadari cinta tuhanya
yang sangat besar ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ
دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ
اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat
dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Maidah:3)
Empat ayat diatas dari 6666 ayat yang ada di dalam al qur an (ulama berbeda pendapat dalam hal ini) kita dapat melihat betapa besar cinta Allah subhanahu wata’ala kepada hambanya, bagaimana jika ditelusuri satu-satu dari 6666 ayat yang ada di al qur an, sungguh yang kita dapati adalah cinta Allah yang tiada bandingan, tiada tara, tiada yang mampu mengukurnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
Empat ayat diatas dari 6666 ayat yang ada di dalam al qur an (ulama berbeda pendapat dalam hal ini) kita dapat melihat betapa besar cinta Allah subhanahu wata’ala kepada hambanya, bagaimana jika ditelusuri satu-satu dari 6666 ayat yang ada di al qur an, sungguh yang kita dapati adalah cinta Allah yang tiada bandingan, tiada tara, tiada yang mampu mengukurnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ
الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan
Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan
kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu
menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah)”.
Maka sudah terbukti cinta Allah kepada manusia adalah cinta yang tiada
bandingannya, bahkan jika dibandingkan dengan cinta kita terhadap diri kita
sendiri.
Yang
kedua, semua kejadian yang terjadi pada diri manusia baik suka ataupun duka merupakan
dalil aqli, bukti cinta Allah subhanahu wata’ala kepada hambanya. Bagaimana
bisa semua itu merupakan cinta Allah subhanahu wata’ala? Benarkah setiap
kejadian baik ataupun buruk yang kita alami merupakan tanda cinta Allah subhanahu
wata’ala kepada hambanya? In syaa allah akan di bahas di part ke 2. Wallahu
a’alam
OLEH: KHODIMUL ILMI MUHAMMAD FITRAH

Komentar
Posting Komentar